ubah bahasa sesuai keinginan anda

Rabu, 26 Desember 2012

Aspek keterkinian dalam praktek keperawatan komunitas

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar belakang
Saat ini praktek perawat komunitas dan kebanyakan para pekerja komunitas di seluruh dunia di landasi oleh konsep kemitraan, kerjasama, pemberdayaan. Bersama pihak terkait lainnya dalam komunitasnya mereka berupaya dengan sungguh-sungguh untuk mencapai sehat untuk semua. Tujuan mereka hanya dapat di capai mana kala hak asasi semua pihak, khususnya para wanita, anak-anak serta semua orang yang terpinggirkan dan lemah di tingkatkan dan di lindungi. Dengan kata lain, perawat komunitas mengarahkan upaya-upaya mereka untuk mencapai keadilan social dan kesamaan untuk semua. Untuk mencapai tujuan ini, perawat komunitas sangat memahami bahwa berbagai upaya peningkatan kesehatan seharusnya di dasarkan kepada konteks yang lebih luas. Pada aspek social ekonomi untuk masyarakat setempat, regional, maupun masalah isu global. Pada batasan suatu Negara dalam pandangan tradisional secara berangsur hilang dan pembatasan lain juga di tinggalkan, dasar keterkaitan dunia kita berserta berbagai permasalahannya dapat di lihat secara mudah dalam kerjasama internasional, regional, maupun setempat untuk memecahkan berbagai persoalan. Pada saat yang sama dunia kita cenderung mengalami ketidakstabilan politik dibandingkan dengan situasi sebelum perang dingin, yang masih relative muda untuk mengidentifikasi mana “teman” dan mana “musuh” kita. Format baru dari nasionalisme, identitas suku, fundamentalisme agama, maupun fasisme bermunculan kembali dan mengancam harapan dunia baru yang menginginkan kedamaian dan keadilan untuk semua.
Visi Departemen Kesehatan Republik Indonesia adalah memandirikan masyarakat untuk hidup sehat dengan misi membuat rakyat sehat. Guna mewujudkan visi dan misi tersebut berbagai program kesehatan telahdikembangkan termasuk pelayanan kesehatan di rumah. Pelayanan kesehatan dirumah merupakan program yang sudah ada dan perlu dikembangkan, karena telahmenjadi kebutuhan masyarakat, Salah satu bentuk pelayanan kesehatan yangsesuai dan memasyarakat serta menyentuh kebutuhan masyarakat yakni melalui pelayanan keperawatan Kesehatan di rumah atau Home Care.
Berbagai faktor yang mendorong perkembangannya sesuai dengan kebutuhan masyarakat yaitumelalui pelayanan keperawatan kesehatan di rumah.Hasil kajian Depkes RI tahun 2000 diperoleh hasil : 97,7 % menyatakan perlu dikembangkan pelayanan kesehatan di rumah, 87,3 % mengatakan bahwa perlu standarisasi tenaga, sarana dan pelayanan, serta 91,9 % menyatakan pengelola keperawatan kesehatan di rumah memerluka ijin oprasional. Berbagaifaktor yang mendorong perkembangan pelayanan keperawatan kesehatan dirumahatara lain : Kebutuhan masyarakat, perkembangan IPTEK bidang kesehatan,tersedianya SDM kesehatan yang mampu memberi pelayanan kesehatan di rumah

B.     Tujuan
1.   Tujuan Umum
Mengetahui konsep keperawatan komunitas mengenai teori dan praktik    
2.   Tujuan Khusus
a.       Menegetahui definisi keperawatan komunitas
b.      Mengetahui tujuan keperawatan komunitas
c.       Mengetahui sasaran, ruang lingkup, falsafah dan filosofi keperawatan komunitas
d.      Mengetahui prinsip pemberian pelayanan keperawatan komunitas
e.       Mengetahui tatanan praktik dalam keperawatan kesehatan komunitas
f.       Mengetahui konsep model keperawatan yang dapat digunakan dalam pemberian keperrawatan komunitas
g.      Mengetahui prinsip kperawatan komunitas serta mengetahui sistem rujukan masyarakat.
h.      Mengetahui konsep aspek keterkinian dalam praktik keperawatan komunitas mengenai teori dan praktik.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.    Definisi Keperawatan Komunitas
WHO ( World Health Organitation ) 1974 : mencakup perawatan kesehatan keluarga ( Nurse Health Family ) dan juga meliputi kesehatan dan kesejahteraan masyarakat luas, membantu masyarakat mengidentifikasi masalah kesehatan sendiri serta memecahkan masalah kesehatan tersebut sesuai dengan kemampuan yang ada pada mereka sebelum mereka meminta bantuan pada orang lain.
Departemen kesehatan RI ( 1986 ) : keperawatan kesehatan masyarakat adalah suatu upaya pelayanan keperawatan yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan yang dilaksanakan oleh perawat dengan mengikutsertakan team kesehatan lainnya dan masyarakat untuk memperoleh tingkat kesehatan yang lebih tinggi dari individu, keluarga dan masyarakat.
Winslow ( 1920 ) adalah seorang ahli kesehatan masyarakat, yang membuat batasan sampai saat ini relevan, yakni public health atau kesehatan masyarakat adalah ilmu dan seni mencegah penyakit, memperpanjang hidup, dan meningkatkan efisiensi hidup melalui upaya pengorganisasian masyarakat untuk :
1.   Kelompok – kelompok masyarakat yang terkoordinir
2.   Perbaikan kesehatan lingkungan
3.   Mencegah dan memberantas penyakit menular
4.   Memberikan pendidikan kesehatan kepada masyarakat atau perseorangan
5.   Dilaksanakan dengan mengkoordinasikan tenaga kesehatan dalam satu wadah padaan pelayanan kesehatan masyarakat yang mampu menumbuhkan swadaya masyarakat untuk peningkatan derajat kesehatan masyarakat secara optimal.

B.     Tujuan keperawatan komunitas
Keperawatan komunitas merupakan suatu bentuk pelayanan kesehatan yang dilakukan sebagai upaya dalam pencegahan dan peningkatan derajat kesehatan masyarakat melalui pelayanan keperawatan langsung (direction) terhadap individu, keluarga dan kelompok didalam konteks komunitas serta perhatian lagsung terhadap kesehatan seluruh masyarakat dan mempertimbangkan masalah atau isu kesehatan masyarakat yang dapat mempengaruhi individu, keluarga serta masyarakat. Tujuan keperawatan adalah untuk pencegahan dan peningkatan kesehatan masyarakat melalui upaya:
1.   Pelayanan keperawatan secara langsung ( direct care ) terhadap individu, keluarga dan kelompok dalam konteks komunitas.
2.   Perhatian langsung terhadap kesehatan seluruh masyarakat ( health general community ) dan mempertimbangkan bagaimana masalah atau isu kesehatan masyarakat dapat mempengaruhi keluarga, individu dan kelompok.
Dan selanjutnya secara spesifik diharapkan : individu, keluarga, kelompok dan masyarakat mempunyai kemampuan untuk :
1.   Mengidentifikasi masalah kesehatan yang dialami
2.   Menetapkan masalah kesehatan dan memprioritaskan masalah tersebut
3.   Merumuskan serta memecahkan masalah
4.   Menanggulangi masalah kesehatan yang mereka alami
5.   Mengevaluasi sejauh mana pemecahan maslah yang mereka hadapi yang akhirnya dapat meningkatkan kemampuan dalam memelihara kesehatan secara mandiri ( self care )
C.    Sasaran keperawatan komunitas
Seluruh masyarakat termasuk individu, keluarga dan kelompok baik yang sehat maupun yang sakit khususnya mereka yang beresiko tinggi dalam masyarakat.

1.   Individu
Individu adalah anggota keluarga sebagai kesatuan utuh dari aspek biologi, psikologi, soaial dan spiritual. Maka peran perawat adalah membantu agar individu dapat memenuhi kebutuhan dasarnya karena kelemahan fisik dan mental yang dialami, keterbatasan pengetahuannya dan kurangnya kemampuan menuju kemandirian. Perawat memberikan asuhan keperawatan kepada individu yang mempunyai masalah kesehatan tertentu (misalnya TBC, ibu hamil d1l) yang dijumpai di poliklinik, Puskesmas dengan sasaran dan pusat perhatian pada masalah kesehatan dan pemecahan masalah kesehatan individu.
2.   Keluarga
Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala kepala keluarga, anggota keluarga lainnya yang berkumpul dan tinggal dalam satu rumah tangga karena pertalian darah dan ikatan perkawinan atau adopsi. Antara keluarga satu dan yang lainya saling tergantung dan berinteraksi, bila salah satu atau beberapa anggota keluarga mempunyai masalah kesehatan maka akan berpengaruh terhadap anggota yang lainya dan keluarga yang ada disekitarnya. Dari permasalahan tersebut, maka keluarga merupakan fokus pelayanan kesehatan yang strategis :
a.    Keluarga sebagai lembaga yang perlu diperhitungkan
b.   Keluarga mempunyai peran utama dalam pemeliharaan kesehatan seluruh anggota keluarga
c.    Masalah kesehatan dalam keluarga saling berkaitan
d.   Keluarga sebagai tempat penggambilan keputusan dalam perawatan kesehatan
e.    Keluarga merupakan perantara yang efektif dalam berbagai usaha – usaha kesehatan masyarakat.
Prioritas pelayanan Perawatan Kesehatan Masyarakat difo¬kuskan pada keluarga rawan yaitu :
a.    Keluarga yang belum terjangkau pelayanan kesehatan, yaitu keluarga dengan: ibu hamil yang belum ANC, ibu nifas yang persalinannya ditolong oleh dukun dan neo¬natusnya, balita tertentu, penyakit kronis menular yang tidak bisa diintervensi oleh program, penyakit endemis, penyakit kronis tidak menular atau keluarga dengan kecacatan tertentu (mental atau fisik).
b.   Keluarga dengan resiko tinggi, yaitu keluarga dengan ibu hamil yang memiliki masalah gizi, seperti anemia gizi be-rat (HB kurang dari 8 gr%) ataupun Kurang Energi Kronis (KEK), keluarga dengan ibu hamil resiko tinggi seperti perdarahan, infeksi, hipertensi, keluarga dengan balita dengan BGM, keluarga dengan neonates BBLR, keluarga dengan usia lanjut jompo atau keluarga dengan kasus percobaan bunuh diri.
c.    Keluarga dengan tindak lanjut perawatan
3.      Kelompok khusus
Yaitu sekumpulan individu yang mempunyai kesamaan jenis kelamin, umur, permasalahan, kegiatan yang terorganisasi yang sangat rawan terhadap masalah kesehatan antara lain :
a.    Kelompok khusus dengan kebutuhan kesehatan khusus sebagai akibat perkembangan dan pertumbuhan seperti : ibu hamil, bayi baru lahir, anak balita, anak usia sekolah dan usia lansia atau lanjut usia.
b.   Kelompok dengan kesehatan khusus yang memerlukan pengawasan dan bimbingan serta asuhan keperawatan, antara lain : kasus penyakit kelamin, tuberculosis, AIDS, kusta dan lain – lain.
D.    Asumsi Keperawatan Kesehatan Komunitas
Asumsi mengenai keperawatan kesehatan komunitas yang dikemukakan ANA (1980) yaitu keperawatan kesehatan komunitas merupakan system pelayanan kesehatan yang kompleks, keperawatan kesehatan komunitas merupakan subsistem pelayanan kesehatan. Penentuan kebijakan kesehatan seharusnya melibatkan penerima pelayanan, perawat dan klien membentuk hubungan kerja sama yang menunjang pelayanan kesehatan, lingkungan mempunyai pengaruh terhadap kesehatan klien, serta kesehatan menjadi tanggung jawab setiap individu.
E.     Karakteristik Keperawatan
Keperawatan komunitas memiliki beberapa karakteristik, yaitu pelayanan keperawatan yang diberikan berorientasi kepada pelayanan kelompok, fokus pelayanan utama adalah peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit, asuhan keperawatan diberikan secara komprehensif dan berkelanjutan dengan melibatkan partisipasi klien/masyarakat, klien memiliki otonomi yang tinggi, fokus perhatian dalam pelayanan keperawatan lebih kearah pelayanan pada kondisi sehat, pelayanan memerlukan kolaborasi interdisiplin, perawat secara langsung dapat meng¬kaji dan mengintervensi klien dan lingkungannya dan pelayanan didasarkan pada kewaspadaan epidemiologi.

F.     Prinsip Pemberian Pelayanan Keperawatan Kesehatan Komunitas
Pada saat memberikan pelayanan kesehatan, perawat komunitas harus rnempertimbangkan beberapa prinsip, yaitu kemanfaatan dimana semua tindakan dalam asuhan keperawatan harus memberikan manfaat yang besar bagi komunitas, pelayanan keperawatan kesehatan komunitas dilakukan bekerjasama dengan klien dalam waktu yang panjang dan bersifat berkelanjutan serta melakukan kerjasama lintas program dan lintas sektoral, asuhan keperawatan diberikan secara langsung mengkaji dan intervensi, klien dan, lingkungannya termasuk lingkungan sosial, ekonomi serta fisik mempunyai tujuan utama peningkatan kesehatan, pelayanan keperawatan komunitas juga harus memperhatikan prinsip keadilan dimana tindakan yang dilakukan disesuaikan dengan kemampuan atau kapasitas dari komunitas itu. sendiri, prinsip yang lanilla yaitu otonomi dimana klien atau komunitas diberi kebebasan dalam memilih atau melaksanakan beberapa alternatif terbaik dalam menyelesaikan masalah kesehatan yang ada.
Prinsip dasar lainnya dalam keperawatan kesehatan komunitas, yaitu :
1.   Keluarga adalah unit utama dalam pelayanan kesehatan masyarakat
2.   Sasaran terdiri dari, individu, keluarga, kelompok dan masyarakat.
3.   Perawat kesehatan bekerja dengan masyarakat bukan bekerja untuk masyarakat
4.   Pelayanan keperawatan yang diberikan lebih menekankan pada upaya promotif dan preventif dengan tidak melupakan upaya kuratif dan rehabilitatif.
5.   Dasar utama dalam pelayanan perawatan kesehatan masyarakat adalah menggunakan pendekatan pemecahan masalah yang dituangkan dalam proses keperawatan.
6.   Kegiatan utama perawatan kesehatan komunitas adalah di¬masyarakat dan bukan di rumah sakit.
7.   Klien adalah masyarakat secara keseluruhan bark yang sakit maupun yang sehat.
8.   Perawatan kesehatan masyarakat ditekankan kepada pem¬binaan perilaku hidup sehat masyarakat.
9.   Tujuan perawatan kesehatan komunitas adalah meningkat¬kan fungsi kehidupan sehingga dapat meningkatkan derajat kesehatan seoptimal mungkin.
10.  Perawat kesehatan komunitas tidak bekerja secara sendiri tetapi bekerja secara tim.
11.  Sebagian besar waktu dari seorang perawat kesehatan ko¬munitas digunakan untuk kegiatan meningkatkan kesehatan, pencegahan penyakit, melayani masyarakat yang sehat atau yang sakit, penduduk sakit yang tidak berobat ke puskesmas, pasien yang baru kembali dari rumah sakit.
12.  Kunjungan rumah sangat penting.
13.  Pendidikan kesehatan merupakan kegiatan utama.
14.  Pelayanan perawatan kesehatan komunitas harus mengacu pada sistem pelayanan kesehatan yang ada.
15.  Pelaksanaan asuhan keperawatan dilakukan di institusi pela¬yanan kesehatan yaitu puskesmas, institusi seperti sekolah, panti, dan lainnya dimana keluarga sebagai unit pelayanan.
G.    Tatanan Praktik Dalam Keperawatan Kesehatan Komunitas
Perawat kesehatan komunitas melakukan pekerjaan pada berbagai posisi dengan fokus utama klien individu, keluarga, dan komunitas. (Archer, 1976). Tatanan praktik dalam keperawatan kesehatan komunitas sangat luas, karena pada semua tatanan perawat komunitas dapat memberikan pelayanan dengan penekanan tingkat pencegahan primer, sekunder dan tertier. Perawat yang bekerja di komunitas dapat bekerja sebagai perawat keluarga, perawat sekolah, perawat kesehatan kerja atau pegawai gerontology.
1.   Perawat Keluarga
Keperawatan kesehatan keluarga adalah tingkat keperawatan tingkat kesehatan masyarakat yang dipusatkan pada keluarga sebagai satu kesatuan yang dirawat dengan sehat sebagai tujuan pelayanan dan perawatan sebagai upaya (Bailon dan Maglaya, 1978).
Perawat keluarga adalah perawat terregistrasi dan telah lulus dalam bidang keperawatan yang dipersiapkan untuk praktik memberikan pelayanan individu dan keluarga disepanjang rentang sehat sakit.
Peran yang dilakukan perawat keluarga adalah melaksanakan asuhan keperawatan keluarga, berpartisipasi dan menggunakan hasil riset, mengembangkan dan melaksanakan kebijakan dibidang kesehatan, kepemimpinan, pendidikan, case management dan konsultasi.
2.Perawat Kesehatan Sekolah
Keperawatan sekolah adalah keperawatan yang difokuskan pada anak ditatanan pendidikan guna memenuhi kebutuhan anak dengan mengikut sertakan keluarga maupun masyarakat sekolah dalam perencanaan pelayanan (Logan, BB, 1986). Fokus utama perawat kesehatan sekolah adalah siswa dan lingkungannya dan sasaran penunjang adalah guru dan kader.
3.Perawat Kesehatan Kerja
Perawatan kesehatan kerja adalah penerapan prinsip-prinsip keperawatan dalam memelihara kelestarian kesehatan tenaga kerja dalam segala bidang pekerjaan. Perawat kesehatan kerja mengaplikasikan praktik keperawatan dalam upaya memenuhi kebutuhan unik individu, kelompok dan masyarakat ditatanan industri, pabrik, tempat kerja, tempat konstruksi, universitas dan lain-lain.


4.Perawat Gerontologi
Perawatan gerontologi atau gerontik adalah ilmu yang mempelajari dan memberikan pelayanan kepada orang lanjut usia yang dapat terjadi diberbagai tatanan dan membantu orang lanjut usia tersebut untuk mencapai dan mempertahankan fungsi yang optimal.
Lingkup praktik keperawatan gerontologi adalah memberikan asuhan keperawatan, melaksanakan advokasi dan bekerja untuk memaksimalkan kemampuan atau kemandirian lanjut usia, meningkatkan dan mempertahankan kesehatan, mencegah dan meminimalkan kecacatan dan menunjang proses kematian yang bermartabat.
H.    Sistem Rujukan
Adalah suatu sistem penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang melaksanakan pelimpahan tanggung jawab timbal balik terhadap satu kasus penyakit atau masalah kesehatan secara vertikal maupun horizontal. Pelayanan kesehatan masyarakat terdiri dari 3 bentuk yaitu :
1.   Pelayanan kesehatan tingkat pertama ( primary health care )
Pelayanan kesehatan jenis ini diperlukan untuk masyarakat yang sakit ringan dan masyarakat yang sehat untuk meningkatkan kesehatan mereka atau promosi kesehatan. Oleh karena jumlah kelompok ini didalam suatu populasi sangat besar ( lebih kurang 85% ), pelayanan yang diperlukan oleh kelompok ini bersifat pelayanan kesehatan dasar ( basic health services ), atau juga merupakan pelayanan kesehatan primer atau utama ( primary health care ). Bentuk pelayanan ini di Indonesia adalah puskesmas yaitu puskesmas pembantu, puskesmas keliling dan balkesmas.
2.   Pelayanan kesehatan tingkat kedua ( secondary health service )
Pelayanan kesehatan jenis ini diperlukan oleh kelompok masyarakat yang memerlukan perawatan inap yang sudah tidak dapat ditangani oleh pelayanan kesehatan primer. Bentuk pelayanan ini misalnya rumah sakit tipe C dan D memerlukan tersedianya tenaga – tenaga spesialis.


3.   Pelayanan kesehatan tingkat ketiga ( tertiary health service )
Pelayanan kesehatan ini diperlukan oleh kelompok masyarakat atau pasien yang tidak dapat ditangani oleh pelayanan kesehatan sekunder. Pelayanan sudah komplek dan memerlukan tenaga – tenaga super spesialis.
I.       Tren dan Isu Keperawatan Komunitas
Isu yang masih mungkin dihadapi keadaan geografi negara Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau yang terpencar-pencar, merupakan salah satu tantangan dalam upaya pembangunan nasional terutama dalam pembangunan kesehatan.
Pembangunan Kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi tingginya. Selain itu pembangunan Kesehatan juga merupakan upaya untuk memenuhi salah satu hak rakyat, yaitu hak untuk memperoleh pelayanan kesehatan sesuai dengan amanat Undang Undang Dasar 1945 dan Undang Undang Nomor 23 tahun 1992 tentang kesehatan Pembangunan kesehatan harus dipandang sebagai suatu investasi untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia, yang diukur dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Keadaan lain di Negara Indonesia yang masih merupakan masalah yang harus dihadapi dalam permasalahan Bidang Kesehatan meliputi :
1.   Masih cukup tingginya disparitas status kesehatan antar tingkat sosial ekonomi.
Permasalahan pembangunan sosial dan budaya yang menjadi perhatian utama antara lain adalah masih rendahnya derajat kesehatan dan status gizi serta tingkat kesejahteraan sosial masyarakat; masih rentannya ketahanan budaya dan belum diberdayakannya kesenian dan pariwisata secara optimal; masih rendahnya kedudukan dan peranan perempuan di berbagai bidang kehidupan dan pembangunan; masih rendahnya partisipasi aktif pemuda dalam pembangunan nasional, belum membudayanya olahraga dan masih rendahnya prestasi olahraga.
Berbagai permasalahan tersebut akan diatasi melalui pelaksanaan berbagai program pembangunan yang mengacu pada arah kebijakan sosial dan budaya yang telah diamanatkan dalam GBHN 1999–2004. Strategi yang digunakan dalam melaksanakan pembangunan bidang sosial dan budaya adalah desentralisasi; peningkatan peran masyarakat termasuk dunia usaha; pemberdayaan masyarakat termasuk pemberdayaan perempuan dan keluarga; penguatan kelembagaan termasuk peningkatan koordinasi antarsektor dan antarlembaga.
Lingkungan sosial budaya yang erat kaitannya dengan masalah kesehatan harus dilihat dari segi kehidupan masyarakat secara luas. Faktor-faktor keasyarakatan tersebuit antara lain struktur sosial, ekonomi dan budaya. Ini meliputi kecerdasan rakyat, kesadaran rakyat untuk memlihara kesehatan dirinya sendiri.
Makin bertambah tinggi tingkat pendidikan masyarakat kan tercipta perilaku dan sikap yang baik terhadapa hidup sehat yang menguntungkan uipaya kesehatan. Masyarakat agraris pada umumnya lebih lamban menanggapi perubahan nilai sosila budaya termasuk ekonomi, hingga sulit mengatasi masalah kemiskinan maupun pengembangan sosial dan budaya, yang justru berpengaruh pada sikap dan perilaku hidup sehat.
2.   Mobilitas penduduk yang cukup tinggi ;
Upaya pengendalian pertumbuhan telah berhasil dengan baik terutama melalui gerakan Keluarga Berencana. Namun pertambahan jumlah penduduk dan perbandingan penduduk usia muda yang masih besar, serta penyebaran peduduk yang masih belum merata, menimbulkan masalah. Perbandingan jumlah penduduk wanita dan pria, tidak akan banyak berubah dari keadaan sekarang, yaitu 100 orang wanita terhadap 96,8 pria. Jumlah penduduk berusia 40 tahun keatas, secara relatif akan bertambah. Ini berarti perlunya peningkatan pelayanan untuk penyakit-penyakit tidak menular seperti kanker, penyakit jantung, dan penyakit degeneratif lainnya yang biasa diderita oleh penduduk berusia 40 tahun keatas, yang relatif lebih mahal pelayanannya dibandingkan dengan penyakit menular.
Dengan demikian ciri kependudukan di Indonesia sampai sekarang masih cenderung bergerak lamban dari penduduk usia muda ke arah penduduk usia tua. Karena itu upaya kesehatan masih ditujukan terutama kepada penyakit-penyakit yang banyak dideriita oleh anak-anak di bawah usia 5 tahun, dengan tidak melupakan pula berbagai penyakit yang lazim diderita oleh golongan umur produktif yang makin besar jumlahnya serta perubahan ciri-ciri penyakit di masa akan datang
3.   Kondisi kesehatan lingkungan masih rendah;
Pencemaran lingkungan dewasa ini selain terutama disebabkan karena kebiasaan membuang kotoran yang tidak semestinya juga disebabkan oleh pencemaran air dan tanah serta udara karena bahan buangan industri, limbah pertanian dan pertambangan serta pencemaran udara karena kenderaan bermotor.
Pencemaran makanan dan minuman dapat terjadi karena hygiene dan sanitasi yang belum memadai, pemakaian bahan tambahan, pemakaian pestisida untuk menyelamatkan produksi pangan dan keadaan lingkungan yang makin tercemar.
Mengenai perumahan, bahwa dewasa ini masih banyak penduduk menempati rumah dan pemukiman yang tidak layak, yang merugikan kondisi kesehatan diri sendiri dan lingkungan.
4.   Perilaku hidup sehat masyarakat yang masih rendah;
Berdasarkan batasan perilaku dari Skiner tersebut, maka perilaku kesehatan adalah suatu respons seseorang (organisme) terhadap stimulus objek yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan dan minuman, serta lingkungan. dari batasan ini, perilaku kesehatan dapat diklasifikasikan menjadi tiga kelompok.
a.    Tidak merokok. merokok adalah kebiasaan jelek yang mengakibatkan berbagai macam penyakit. Ironisnya kebiasaan merokok ini, khususnya di Indonesia seolah-olah sudah membudaya. Hampir 50% penduduk Indonesia usia dewasa merokok. bahkan dari hasil suatu penelitian, sekitar 15% remaja kita telah merokok. inilah tantangan pendidikan kesehatan kita.
b.   Tidak minum-minuman keras dan narkoba. Kebiasaan minuman keras dan mengkonsumsi narkoba (narkotik dan bahan-bahan berbahaya lainnya) juga cenderung meningkat. Sekitar 1% penduduk Indonesia dewasa diperkirakan sudah mempunyai kebiasaan minuman keras ini.
Istirahat cukup. dengan meningkatnya kebutuhan hidup akibat tuntutan untuk penyesuaian lingkungan modern, mengharuskan orang untuk bekerja keras dan berlebihan, sehingga kurang waktu istirahat. hal ini dapat juga membahayakan kesehatan.Mengendalikan stres. Stres akan terjadi pada siapa saja, dan akibatnya bermacam-macam bagi kesehatan. Lebih-lebih sebagai akibat dari tuntutan hidup yang keras seperti diuraikan di atas. Kecenderungan stres akan meningkat pada setiap orang. stres tidak dapat kita hindari, maka yang penting agar stres tidak menyebabkan gangguan kesehatan, kita harus dapat mengendalikan atau mengelola stres dengan kegiatan-kegiatan yang positif.
c.    Perilaku atau gaya hidup lain yang positif bagi kesehatan, misalnya : tidak berganti-ganti pasangan dalam hubungan seks, penyesuaian diri kita dengan lingkungan, dan sebagainya. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yaitu Upaya untuk memberikan pengalaman belajar atau menciptakan suatu kondisi bagi perorangan, keluarga, kelompok dan masyarakat, dengan membuka jalur komunikasi, memberikan informasi dan melakukan edukasi untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku melalui pendekatan pimpinan (advocacy), bina suasana (social support) dan pemberdayaan masyarakat (empowerment) sebagai suatu upaya untuk membantu masyarakat mengenali dan mengetahui masalahnya sendiri, dalam tatanan rumah tangga, agar dapat menerapkan cara-cara hidup sehat dalam rangka menjaga, memelihara dan meningkatkan kesehatannya.
5.   Keterbatasan pelayanan kesehatan  ; Dalam rangka pemerataan pengembangan dan pembinaan kesehatan masyarakat, khususnya yang berpenghasilan rendah, telah dibangun Pusat-Pusat Kesehatan Masyarakat. Dewasa ini seluruh kecamatan sudah mempunyai sekurang-kurangnya sebuah Puskesmas serta beberapa Puskesmas Pembantu. Jangkauan upaya pelayanan Puskesmas dan Puskemsas pemantu masih belum memadai terutama di daerah pedesaan yang sulit perhubungannya atau daerah terpencil. Untuk mengatasi itu diadakan Puskesmas Keliling dan Polindes untuk membantu memberiakan pelayanan kepeda penduduk. Namun belum semua desa bisa terjangkau.
Upaya pelayanan kesehatan yang mmenyeluruh dan terpadu hanya mungkin diwujudkan jika sistem rujukan dikembangkan dengan meningkatkan sarana dalam arti luas, yakni pengembangan rumah sakit yang memenuhi syarat medis teknis serta kejelasan tanggung jawab antara Puskesmas dan Rumah sakit, baik pemerintah maupun swasta.
6.   Jumlah tenaga kesehatan masih kurang merata, masih rendahnya kualitas pelayanan kesehatan di Puskesmas dan jaringannya, masih rendahnya kinerja SDM Kesehatan.
Secara umum dapat dikatakan bahwa baik tenaga medis maupun tenaga paramedis jumlah dan mutunya serta pemerataannya masih belum memadai. Hampir seluruh dokter dan sebagian besar tenaga paramedis adalah pegawai negeri, sedangkan banyak tenaga medis merangkap melayani usaha kesehatan swasta. Hal ini dapat mengurangi mutu pelayanan kesehatan-kesehatan pemerintah. Perbandingan jumlah dokter dan paramedis serta tenaga kesehatan lainnya terhadap jumlah penduduk masih jauh dari memuaskan. Pola ketenagaan untuk unit-unit pelayanan kesehatan serta pendidikan dan latihannya masih perlu dimantapkan.
Sistem pengelolaan tenaga kesehatan yang baru dirintis belum sepenuhnya memungkinkan pembinaan tenaga kesehatan berdasarkan sistem karier dan prestasi kerja. Dengan meningkatnya kecepatan pembangunan bidang kesehatan sebagi bagian dari pembangunan nsional, kiranya masalah ketenagaan tersebut juga akan cenderung meningkat pula. Karena itu masalah ketenagaan perlu mendapatkan prioritas penggarapan baik untuk jangka pendek maupun menengah dan jangka panjang.
7.   Pemanfaatan fasilitas kesehatan yang ada belum optimal ;
Pencarian dan penggunaan sistem atau fasilitas pelayanan kesehatan, atau sering disebut perilaku pencairan pengobatan (health seeking behavior). Perilaku ini adalah menyangkut upaya atau tindakan seseorang pada saat menderita penyakit dan atau kecelakaan. tindakan atau perilaku ini dimulai dari mengobati sendiri (self treatment) sampai mencari pengobatan ke luar negeri.
Fasilitas kesehatan sebagi salah satu sumber daya kesehatan sampai dewasa ini telah dikembangkan tahap demi tahap sesuai dengan keperluan. Jumlah dan fungsi rumah sakit baik pemerintah maupun swasta telah pula ditingkatkan. Peningkatan rumah sakit ini merupakan salah satu kegiatan dari peningkatan upaya kesehatan rujukan, yang dimaksudkan untuk lebih menunjang upaya kesehatan Puskesmas. Demikian pula fasilitas kesehatan lainnya seperti laboratorium , kantor, perumahan dinas, fasilitas pendidikan dan latihan dan yang lainnya telah pula ditingkatkan. Namun pamanfaatan terhadap fasiltas tersebut masih belum optimal, hal ini dapat kita lihat dari sedikitnya jumlah kunjungan rawat jalan di Puskesmas dibandingkan dengan kunjungan ke praktek pribadi medis maupun paramedis. Selain itu masih adanya pemanfaatan pengobatan pada praktik perdukunan pada sebagain masyarakat di pedesaan.
8.   Akses masyarakat untuk mencapai fasilitas kesehatan yang ada belum optimal.
Akses yang dimaksud adalah sarana pendukung seperti sarana jalan dan transfortasi yang masih belum baik dan kurang. Di daerah terbelakang dan terpencil sampai saat ini untuk sarana jalan dan transfortasi dapat dikatakan kurang mendukung. Untuk mencapai fasilitas kesehatan terkadang membutuhkan waktu berhari-hari hanya untuk mengobati sakit sanak keluarga masyarakat di desa terpencil tersebut. Permasalah ini tidak lepas juga dengan letak geografis darah tersebut. Selain itu tidak semua desa tertinggal atau terpencil ditempatkan petugas kesehatan dikarenakan masih kurangnya tenaga kesehatan.
9.   Peran lintas sektor dalam bidang kesehatan belum optimal.
Di antara faktor-faktor yang perlu mendapatkan perhatian dalam pembangunan amntara lain adalah kertja sama lintas sektor. Kerja sama yang dimaksud adalah kerja sama berbagao sektor pembangunan, kerjasama pemerintah dengan masyarakat termasuk swasta. Yang masih perlu ditingkatkan adalah kerja sama lintas sektor yang diselenggarakan oleh pemerintah dan swasta, baik dari segi teknis opersional maupun administratif, ketengaan dan kejelasan mekanisme kerja bahkan termasuk aspek-aspek hukum yang dapat memantapkan kerja sama secara luas. Kerja sama llintas sektor sering sukar diwujudkan jika kerja sama tersebut tidak didasari oleh saling pengertian dan keterbukaan yang mendalam antara komponen yang terlibat serta tidak ada kejelasan tentang tujuan bersama. Peran yang harus dilakukan oleh masing-masing komponen dalam kerja sama itu dan mekanisme kerjanya perlu dirumuskan.
J.      Trend Keperawatan Komunitas dan Implikasinya di Indonesia
Perawatan kesehatan menurut Ruth B. Freeman (1961) adalah sebagai suatu lapangan khusus di bidang kesehatan, keterampilan hubungan antar manusia danketerampilan terorganisasi diterapkan dalam hubungan yang serasi kepadaketerampilan anggota profesi kesehatan lain dan kepada tenaga sosial demi untuk memelihara kesehatan masyarakat. Oleh karenanya perawatan kesehatan masyarakatditujukan kepada individu-individu, keluarga, kelompok-kelompok yangmempengaruhi kesehatan terhadap keseluruhan penduduk, peningkatan kesehatan, pemeliharaan kesehatan, penyuluhan kesehatan, koordinasi dan pelayanankeperawatan berkelanjutan dipergunakan dalam pendekatan yang menyeluruhterhadap keluarga, kelompok dan masyarakat.
Pengembangan kesehatan masyarakat di Indonesia yang telah dijalankanselama ini masih memperlihatkan adanya ketidaksesuaian antara pendekatan pembangunan kesehatan masyarakat dengan tanggapan masyarakat, manfaat yangdiperoleh masyarakat, dan partisipasi masyarakat yang diharapkan. Meskipun didalam Undang-undang No. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan telah ditegaskan bahwatujuan pembangunan kesehatan masyarakat salah satunya adalah meningkatkankemandirian masyarakat dalam mengatasi masalah kesehatannya. Oleh karena itu pemerintah maupun pihak-pihak yang memiliki perhatian cukup besar terhadap pembangunan kesehatan masyarakat termasuk perawat spesialis comunitas perlumencoba mencari terobosan yang kreatif agar program-program tersebut dapatdilaksanakan secara optimal dan berkesinambungan.Salah satu intervensi keperawatan komunitas di Indonesia yang belum banyak digali adalah kemampuan perawat spesialis komunitas dalam membangun jejaringkemitraan di masyarakat. Padahal, membina hubungan dan bekerja sama denganelemen lain dalam masyarakat merupakan salah satu pendekatan yang memiliki pengaruh signifikan pada keberhasilan program pengembangan kesehatan masyarakat(Kahan & Goodstadt, 2001). Pada bagian lain Ervin (2002) menegaskan bahwa perawat spesialis komunitas memiliki tugas yang sangat penting untuk membangundan membina kemitraan dengan anggota masyarakat. Bahkan Ervin mengatakan bahwa kemitraan merupakan tujuan utama dalam konsep masyarakat sebagai sebuahsumber daya yang perlu dioptimalkan (community-as-resource)
dimana perawat spesialis komunitas harus memiliki ketrampilan memahami dan bekerja bersamaanggota masyarakat dalam menciptakan perubahan di masyarakat. Terdapat limamodel kemitraan yang menurut anggapan penulis cenderung dapat dipahami sebagaisebuah ideologi kemitraan, sebab model tersebut merupakan azas dan nafas kitadalam membangun kemitraan dengan anggota masyarakat lainnya. Model kemitraan tersebut antara lain:
1.   Kepemimpinan (manageralism) (Rees, 2005),
2.   Pluralism baru (new-pluralism)
3.   Radikalisme berorientasi pada Negara (state-oriented radicalism)
4.   Kewirausahaan (entrepreneurialism)
5.   Dan membangun gerakan (movement-building) (Batsler dan Randall,1992).
Berkaitan dengan praktik keperawatan komunitas di atas, maka modelkemitraan yang sesuai untuk mengorganisasi elemen masyarakat dalam upaya pengembangan derajat kesehatan masyarakat dalam jangka panjang adalah modelkewirausahaan (entrepreneurialism). Model kewirausahaan memiliki dua prinsip utama, yaitu prinsip otonomi (autonomy) kemudian diterjemahkan sebagai upaya advokasi masyarakat dan prinsip penentuan nasib sendiri (self-determination) yangselanjutnya diterjemahkan sebagai prinsip kewirausahaan.
Praktik keperawatanmandiri atau kelompok hubungannya dengan anggota masyarakat dapat dipandangsebagai sebuah institusi yang memiliki dua misi sekaligus, yaitu sebagai institusiekonomi dan institusi yang dapat memberikan pembelaan pada kepentinganmasyarakat terutama berkaitan dengan azas keadilan sosial dan azas pemerataan bidang kesehatan. Oleh karenanya praktik keperawatan sebagai institusi sangatterpengaruh dengan dinamika perkembangan masyarakat (William, 2004; Korsching& Allen, 2004), dan perkembangan kemasyarakatan tentunya juga akanmempengaruhi bentuk dan konteks kemitraan yang berpeluang dikembangkan(Robinson, 2005) sesuai dengan slogan National Council for Voluntary Organizations(NCVO) yang berbunyi : “New Times, New Challenges” (Batsler dan Randall, 1992). Pada bagian lain, saat ini mulai terlihat kecenderungan adanya perubahan pola permintaan pelayanan kesehatan pada golongan masyarakat tertentu dari pelayanan kesehatan tradisional di rumah sakit beralih ke pelayanan keperawatan dirumah disebabkan karena terjadinya peningkatan pembiayaan kesehatan yang cukup besar dibanding sebelumnya (Depkes RI, 2004a, 2004b; Sharkey, 2000; MacAdam,2000).Sedangkan secara filosofis, saat ini telah terjadi perubahan “paradigma sakit” yangmenitikberatkan pada upaya kuratif ke arah “paradigma sehat” yang melihat penyakitdan gejala sebagai informasi dan bukan sebagai fokus pelayanan (Cohen, 1996).
Sehingga situasi tersebut dapat dijadikan peluang untuk mengembangkan praktik keperawatan komunitas beserta pendekatan kemitraan yang sesuai di Indonesia.


K.    Model praktik keterkinian/trend dan isu dalam keperawatan komunitas
Konsep dasar tentang tren (trend) adalah hal yang sangat mendasar dalam berbagai pendekatan analisa berbasis teknikal. Semua aspek yang ada bertujuan sama         yaitu untuk membantu mengukur tren suatu hal atau topik, dalam rangka berpartisipasi dalam tren tersebut. Anda mungkin sering mendengar istilah populer seperti “always   trade in the direction of the trend”, “never buck the trend”, atau “the trend is your friend”. Tulisan singkat ini mencoba mengupas dan mendefinisikan apa yang dimaksud dengan         tren dan mengklasifikasikannya dalam beberapa kategori.
Secara umum, tren adalah ke arah mana sesuatu bergerak. Tapi kita membutuhkan         definisi yang lebih akurat untuk dapat memanfaatkannya dalam analisa teknikal. Pertama yang harus diingat adalah bahwa gerakan kepopuleran atau sesuatu yang aktual tidak berbentuk garis lurus ke satu arah. Melainkan bergerak dalam bentuk serangkaian zigzag.
Gerakan Zigzag ini membentuk rangkaian gelombang yang berurutan, dengan puncak           (peak/top) dan “tembusan” (through) yang cukup jelas. Arah peak dan through ini yang menentukan tren. Peak dan trough ini bergerak naik turun, atau menyamping (sideways). Arah gerakan inilah yang memberitahukan kita tentang sebuah tren. Sebuah tren menaik (uptrend) didefinisikan sebagai serangkaian urutan peak dan through yang menaik.
Tren menurun (downtrend) adalah kebalikannya, yaitu serangkaian peak dan through yang semakin menurun. Adapun serangkaian peak dan through yang cenderung menyamping disebut sebagai sideways/ranging. Namun tren yang dimaksud disini adalah tren yang bergerak naik yang ditandai dengan peak dan trough.
Jadi, Tren keperawatan komunitas adalah sesuatu yang sedang booming, actual, dan sedang hangat diperbincangkan dalam ruang lingkup keperawatan komunitas.
Isu adalah suatu peristiwa atau kejadian yang dapat diperkirakan terjadi atau tidak terjadi di masa mendatang, yang menyangkut ekonomi, moneter, sosial, politik, hukum, pembangunan nasional, bencana alam, hari kiamat, kematian, ataupun tentang krisis.
Secara sederhana isu dapat diartikan sebagai sebuah persoalan, atau isu dapat juga dikatakan sebagai sebuah masalah, sesuatu yang sedang menjadi perhatian, yang terlintas khabar, desas desus atau banyak lagi peristilahan lain. Isu berarti sebuah pokok persoalan.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Tahun 1997, isu adalah “masalah yang            dikedepankan”. Sedangkan Kamus Besar Bahasa Indonesia tahun 1993, isu adalah :
1.   Masalah yang dikedepankan untuk ditangani;
2.   Kabar angin yang tidak jelas asal usulnya dan tidak terjamin kebenarannya;
3.   Kabar, desas-desus.
Dalam praktiknya, aktual memiliki beberapa makna antara lain: benar terjadi atau           akan terjadi, sedang menjadi perhatian orang banyak dan merupakan berita hangat. Jadi,   isu keperawatan komunitas adalah suatu masalah yang dikedepankan untuk ditangani      atau     desas - desus dalam ruang lingkup keperawatan komunitas.
           
1.   Home Care
Kesehatan merupakan hal yang sangat dibutuhkan oleh setiap manusia, hal ini tercermin dari banyaknya jumlah penderita yang datang ke pelayanan kesehatan untuk mendapatkan pengobatan dan perawatan.Mereka datang dari berbagai golongan yang berbeda, mulai dari golongan ekonomi kelas tinggi hingga ekonomi kelas bawah. Sebagaimana pencanangan “Gerakan Pembangunan Berwawasan Kesehatan” pada 1Maret 1999 oleh presiden RI, yang salah satu strateginya adalah“Pembangunan Kesehatan Nasional Menuju Indonesia Sehat Tahun 2012”dan diperkuat oleh perubahan amandemen UUD 1945, tap MPR No.3 th2000 dan Tap MPR No. VI tahun 2002, membuktikan kuatnya kepedulian pemerintah akan arti pentingnya sebuah bangsa yang sehat. Semakin banyaknya pelayanan kesehatan saat ini menyebabkan berbagai pelayanan memberikan service yang lebih memuaskan pelanggan, hal ini menyebabkan tingginya tarif rumah sakit yang tidak mampu ditanggung oleh masyarakat biasa / kelas menengah ke bawah. Tingginya jumlah pasien yang masuk ke rumah sakit dan kurangnya perawatan yangdiberikan pada rumah sakit menyebabkan LOS (length of stay/lama tinggaldi RS) menjadi semakin panjang sehingga banyak di antara penderita/keluarga merasa keberatan dengan biaya yang harus dibayar untuk  biaya perawatan. Hal ini terjadi hampir di semua bangsal perawatan.
Di sisi lain rumah sakit dan institusi pelayanan kesehatan untuk meningkatkan kualitasnya, salah satu caranya dengan melakukan evaluasi terhadap peningkatan ”Bed Occupancy Rates”, peningkatan rawat jalan pasca bedah, pemulangan pasien lebih awal, yang merupakan trend untuk  peningkatan mutu pelayanan (Setyawati, 2004). Selain itu kasus penyakit terminal yang tidak efektif dan tidak efisien di rawat di Rumah Sakit diharapkan untuk mengikuti perawatan di rumah. Hasil penelitian Rini dan Alin (2008) pada pasien pasca stroke menyatakan mereka membutuhkan program pelayanan home care yang dilakukan oleh home care agency karena pihak keluarga kurang mampu melaksanakan perawatan dan rehabilitasi pasca stroke secara mandiri di rumah selain juga karena keterbatasan waktu yang ada. Adapun penelitian Megawati(2004) pada pasien yang sedang mengikuti home care di rumah sakit, mereka setuju adanya home care dengan biaya lebih murah. Menurut Depkes RI (2002) mendefinisikan bahwa home care adalah pelayanan kesehatan yang berkesinambungan dan komprehensif diberikan kepada individu, keluarga, di tempat tinggal mereka yang bertujuan untuk meningkatkan, mempertahankan, memulihkan kesehatan/memaksimalkan kemandirian dan meminimalkan kecacatan akibat dari penyakit.
Layanan diberikan sesuai dengan kebutuhan pasien/keluarga yang direncanakan, dikoordinir, oleh pemberi layanan melalui staff yang diatur berdasarkan perjanjian bersama. Salah satu tujuan dari pelayanan keperawatan professional adalah memberikan pelayanan keperawatan yang holistic (menyeluruh) bio, psiko, sosio, dan cultural kepada individu, kelompok dan masyarakat sesuai dengan kebutuhan dasarnya. Pelayanan yang bersifat holistic ini akan lebih lengkap dengan pemberian pelayanan keperawatan lanjutan dirumah dengan home health care. Mengingat hal-hal tersebut diatas, maka Home health Care sebagai jembatan antara rumah sakit dan masyarakat dalam sektor kesehatan harus berperan aktif dalam ikut mendukung program pembangunan di masa yang akan datang, namun dengan tidak mengabaikan aspek sosial dan menjaga martabat moral etika sesuai dengan etika ketimuran yang ada dimasyarakat. Berdasarkan pertimbangan yang ada sudah selayaknya terbentuk suatu jasa pelayanan yang bersifat sosial sekaligus ekonomis yaitu dengan adanya jasa pelayanan home health care. Oleh karena itu jasa pelayanan kesehatan yang bersifat sosial tetapi tetap memperhatikan nilai ekonomis maka perlu disusun dalam suatu perencanaan baik.
1)   Kegiatan home care
Manajemen Kasus Home Care
a. Melakukan seleksi kasusa.
a)   Resiko tinggi ( Bayi, balita, lansia, ibu maternal )
b)   Cidera tulang belakang cidera kepalac.
c)   Coma, Diabetes mellitus, gagal jantung, asma beratd.
d)  Strokee.
e)   Amputasif.
f)    Ketergantungan obatg.
g)   Luka kronish.
h)   Disfungsi kandung kemihi.
i)     Rehabilitasi medik  
j)     Nutrisi melalui infusk.
k)   Post partum dan masalah reproduksil.
l)     Psikiatrim. Kekerasan dalam rumah tangga.
m) Melakukan pengkajian kebutuhan pasien.
b.Kondii fisik 
a)   Kondisi psikologisc.
b)   Status sosial ekonomid.
c)   Pola prilaku pasiene.
d)  Sumber- sumber yang tersedia di keluarga pasien
c. Membuat perencanaan pelayanana.
a)   Membuat rencana kunjungan
b)   Membuat rencana tindakan
c)   Menyeleksi sumber- sumber yang tersedia di keluarga/ masyarakat.
d.      Melakukan koordinasi pelayanana.
a)Memberi informasi berbagai macam pelayanan yang tersedia.
b)   Membuat perjanjian kepada pasien da keluarga tentang pelayanan
c)Menkoordinasikan kegiatan tim sesuai jadwald. Melakukan rujukan pasien.
e. Melakukan pemantauan dan evaluasi pelayanan.
a)Memonitor tindakan yang dilakukan oleh tim.
b)   Menilai hasil akhir pelayanan (sembuh, rujuk, meninggal, menolak )
c)Mengevaluasi proses manajemen kasusd. Monitoring dan evaluasi kepuasan pasien secara teratur
2)   Pelayanan keperawatan Home Care Meliputi:
Pelayanan keperawatan yang diberikan meliputi pelayanan primer, sekunder dan tersier yang berfokus pada asuhan keperawatan klien melalui kerjasama dengan keluarga dantim kesehatan lainnya. Perawatan kesehatan di rumah adalah spektrum kesehatan yangluas dari pelayanan sosial yang ditawarkan pada lingkungan rumah untuk memulihkanketidakmampuan dan membantu klien yang menderita penyakit kronis (NAHC, 1994).
3)   Perkembangan Perawatan Kesehatan di Rumah
Sejauh ini bentuk-bentuk pelayanan kesehatan yang dikenal masyarakat dalam sistem pelayanan kesehatan adalah pelayanan rawat inap dan rawat jalan. Pada sisi lain banyak anggota masyarakat yang menderita sakit karena berbagai pertimbangan terpaksa dirawatdi rumah dan tidak dirawat inap di institusi pelayanan kesehatan. Faktor-faktor yangmendorong perkembangan perawatan kesehatan di rumah adalah :Kasus-kasus efisien lagi penyakit terminal dianggap tidak efektif dan tidak apabiladirawat di institusi pelayanan kesehatan. Misalnya pasien kanker stadium akhir yangsecara medis belum ada upaya yang dapat dilakukan untuk mencapai kesembuhan,Keterbatasan masyarakat untuk membiayai kasus-kasus penyakit degeneratif yang pelayanan kesehatan pada memerlukan perawatan yang relatif lama. Dengandemikian berdampak pada makin meningkatnya kasus-kasus yang memerlukan tindak lanjut keperawatan di rumah. Misalnya pasien pasca stroke yang mengalami komplikasikelumpuhan dan memerlukan pelayanan rehabilitasi yang membutuhkan waktu relatif lama,Manajemen rumah sakit yang berorientasi pada profit, bahwa perawatan klien yangsangat lama (lebih 1 minggu) merasakan tidak menguntungkan bahkan menjadi beban bagi manajemen,Banyak orang kesehatan merasakan bahwa dirawat inap di institusi pelayananmembatasi kehidupan manusia, karena seseorang tidak dapat menikmati kehidupansecara optimal karena terikat dengan aturan-aturan yang ditetapkan,Lingkungan di rumah ternyata dirasakan lebih nyaman bagi klien dibandingkan dengan perawatan di rumah sakit, sehingga sebagian dapat mempercepat kesembuhan(Depkes, 2002).
4)   Tujuan Perawatan Kesehatan Home Care
Perawatan kesehatan di rumah bertujuan :
a.    Membantu klien memelihara atau meningkatkan status kesehatan dan kualitashidupnya.
b.   Meningkatkan keadekuatan dan keefektifan perawatan pada anggota keluarga denganmasalah kesehatan dan kecacatan
c.    Menguatkan fungsi keluarga dan kedekatan antar keluarga
d.   Membantu klien tinggal atau kembali ke rumah dan mendapatkan perawatan yangdiperlukan, rehabilitasi atau perawatan paliatif,5. Biaya kesehatan akan lebih terkendali.

5)   Ruang Lingkup Keperawatan Home Care
Secara umum lingkup perawatan kesehatan di rumah dapat di kelompokkan sebagai berikut :
a.    Pelayanan medik dan asuhan keperawatan
b.   Pelayanan sosial dan upaya menciptakan lingkungan yang terapeutik 
c.    Pelayanan rehabilitasi dan terapi fisik 
d.   Pelayanan informasi dan rujukan
e.    Pendidikan, pelatihan dan penyuluhan kesehatan
f.    Higiene dan sanitasi perorangan serta lingkungan
g.   Pelayanan perbaikan untuk kegiatan social
MenurutRice R (2001) jenis kasus yang dapat dilayani pada perawatan kesehatan dirumah meliputi kasus-kasus yang umum pasca perawatan di rumah sakit dan kasus-kasuskhusus yang di jumpai di komunitas.Kasus umum yang merupakan pasca perawatan di rumah sakit adalah:
a.    Klien dengan penyakit obstruktif paru kronis,
b.   Klien dengan penyakit gagal jantung
c.    Klien dengan gangguan oksigenasi,
d.   Klien dengan perlukaan kronis
e.    Klien dengan diabetes,
f.    Klien dengan gangguan fungsi perkemihan,
g.   Klien dengan kondisi pemulihan kesehatan atau rehabilitasi,
h.   Klien dengan terapi cairan infus di rumah,
i.     Klien dengan gangguan fungsi persyarafan,
j.     Klien dengan HIV/AIDS.
Sedangkan kasus dengan kondisi khusus, meliputi :
a.    Klien dengan post partum,
b.   Klien dengan gangguan kesehatan mental,
c.    Klien dengan kondisi usia lanjut,
d.   Klien dengan kondisi terminal.

6)   Model / Teori Yang Mendukung Home Care
Terdapat beberapa model/ teori keperawatan yang mendukung Home care diantaranya:
a.   Teori Transkultural nursing (Leininger)
Model/ teori keperawatan transkultural nursing memfokuskan pada  penanganan harus memperhatikan budaya pasien. Adapun konsep model/ teori keperawatan ini berorientasi pada culture, cultural care diversity, cultural care universality, nursing, worldview, dimensi struktur budaya dan social, konteks lingkungan, ethnohistory, generic ( folk or lay) care system, sistem perawatan profesional, kesehatan, care/caring, culture care preservation, accomodation dan repatterning. Teori Leininger dan paradigma keperawatan Leininger mengkritisi empat konsep keperawatan yaitu manusia, kesehatan, lingkungan dan keperawatan. Definisi konseptual menurut asumsi dan teori dari Madeleine Leininger yaitu:
a)   Manusia seseorang yang diberi perawatan dan harus diperhatikan kebutuhannya.
b)   Kesehatan yaitu konsep yang penting dalam perawatan transkultural.
c)   Lingkungan tidak didefinisikan secara khusus, namun jika dilihat bahwa telah terwakili dalam kebudayaan, maka lingkungan adalah inti utama dari teori M. Leininger.
d)  Keperawatan menyajikan 3 tindakan yang sebangun dengan kebudayaan klien yaitu cultural care preservation, accomodation dan repatterning.
b.   Teori Self Care ( Dorothea Orem ) 
Pandangan teori Orem dalam tatanan pelayanan keperawatan ditujukan kepada kebutuhan individu dalam melakukan tindakan keperawatan mandiri serta mengatur dalam kebutuhannya. Orem mengklasifikasikan dalam 3 kebutuhan, yaitu:
a)   Universal self care requisites (kebutuhan perawatan diri universal): kebutuhan yang umumnya dibutuhkan oleh manusia selama siklus kehidupannya seperti kebutuhan fisiologis dan psikososial termasuk kebutuhan udara, air, makanan, eliminasi, aktivitas, istirahat, sosial, dan pencegahan bahaya. Hal tersebut dibutuhkan manusia untuk perkembangan dan pertumbuhan, penyesuaian terhadap lingkungan, dan lainnya yang berguna bagi kelangsungan hidupnya.
b)   Development self care requisites (kebutuhan perawatan diri pengembangan): kebutuhan yang berhubungan dengan pertumbuhan manusia dan proses perkembangannya, kondisi, peristiwa yang terjadi selama variasi tahap dalam siklus kehidupan (misal, bayi prematur dan kehamilan) dan kejadian yang dapat berpengaruh buruk terhadap perkembangan. Hal ini berguna untuk meningkatkan proses perkembangan sepanjang siklus hidup.
c)   Health deviation self care requisites (kebutuhan perawatan diri penyimpangan kesehatan): kebutuhan yang berhubungan dengan genetik atau keturunan, kerusakan struktur manusia, kerusakan atau penyimpanngan cara, struktur norma, penyimpangan fungsi atau peran dengan pengaruhnya, diagnosa medis dan penatalaksanaan terukur beserta pengaruhnya, dan integritas yang dapat mengganggu kemampuan seseorang untuk melakukan self care.
Ø  Tiga jenis kebutuhan tersebut didasarkan oleh beberapa asumsi, yaitu:
-       Human being (Kehidupan manusia): oleh alam, memiliki kebutuhan umum akan pemenuhan beberapa zat (udara, air, dan makanan) dan untuk mengelola kondisi kehidupan yang menyokong proses hidup, pembentukan dan pemeliharaan integritas struktural, serta pemeliharaan dan peningkatan integritas fungsional.
-       Perkembangan manusia: dari kehidupan di dalam rahim hingga pematangan ke dewasaan memerlukan pembentukan dan pemeliharaan kondisi yang meningkatkan proses pertumbuhan dan perkembangan di setiap periode dalam daur hidup.
-       Kerusakan genetik maupun perkembangan dan penyimpangan dari struktur normal dan integritas fungsional serta kesehatan menimbulkan beberapa persyaratan/permintaan untuk pencegahan, tindakan pengaturan untuk mengontrol perluasan dan mengurangi dampaknya.
Asuhan keperawatan mandiri dilakukan dengan memperhatikan tingkat ketergantuangan atau kebutuhan klien dan kemampuan klien. Oleh karena itu ada 3 tingkatan dalam asuhan keperawatan mandiri, yaitu:
a)   Perawat memberi keperawatan total ketika pertama kali asuhan keperawatan dilakukan karena tingkat ketergantungan klien yang tinggi (sistem pengganti keseluruhan).
b)   Perawat dan pasien saling berkolaborasi dalam tindakan keperawatan (sistem pengganti sebagian).
c)   Pasien merawat diri sendiri dengan bimbingan perawat (sistem dukungan/pendidikan).
c.    Teori Lingkungan (Florence Nihgtingale)
Teori/model konsep Florence Nightingale memposisikan lingkungan sebagai fokus asuhan keperawatan, dan perawat tidak perlu memahami seluruh proses penyakit, model dan konsep ini dalam upaya memisahkan antara profesi keperawatan dangan kedokteran. Orientasi pemberian asuhan keperawatan / tindakan keperawatan lebih diorientasikan pada pemberian udara, lampu, kenyamanan, kebersihan, ketenangan dan nutrisi yang adequate, dengan dimulai dari pengumpulan data dibandingkan dengan tindakan pengobatan semata, upaya teori tersebut dalam rangka perawat mampu menjalankan praktik keperawatan mandiri tanpa bergantung pada profesi lain. Model dan konsep ini memberikan inspisi dalam perkembangan praktik keperawatan, sehingga akhirnya dikembangkan secara luas, paradigma perawat dalam tindakan keperawatan hanya memberikan kebersihan lingkungan kurang benar, akan tetapi lingkungan dapat mempengaruhi proses perawatan pada pasien, sehingga perlu diperhatikan.
d.   Manusia Sebagai Unit (Rogers)
Berdasarkan teori Rogers sakit timbul akibat ketidakseimbangan energi penanganan dengan metode terapi modalitas/ komplementer. Rogers mengungkapkan bahwa aktivitas yang di dasari prinsip – prinsip kreativitas, seni dan imaginasi. Aktivitas keperawatan dinyatakan Rogers merupakan aktivitas yang berakar pada dasar ilmu pengetahuan abstrak, pemikiran intelektual, dan hati nurani. Rogers menekankan bahwa keperawatan adalah disiplin ilmu yang dalam aktifitasnya mengedepankan aplikasi keterampilan, dan teknologi. Aktivitas keperawatan meliputi pengkajian, intervensi, dan pelayanan rehabilitatif senantiasa berdasar pada konsep pemahaman manusia / individu seutuhnya.
Dasar teori Rogers adalah ilmu tentang asal usul manusia dan alam semesta seperti antropologi, sosiologi, agama, filosofi, perkembangan sejarah dan mitologi. Teori Rogers berfokus pada proses kehidupan manusia secara utuh. Ilmu keperawatan adalah ilmu yang mempelajari manusia, alam dan perkembangan manusia secara langsung.
Berdasarkan pada kerangka konsep yang dikembangkan oleh Roger ada 5 asumsi mengenai manusia, yaitu :
a)   Manusia merupakan makhluk yang memiliki kepribadian unik, antara satu dan lainnya berbeda di beberapa bagian. Secara signifikan mempunyai sifat-sifat yang khusus jika semuanya jika dilihat secara bagian perbagian ilmu pengetahuan dari suatu subsistem tidak efektif bila seseorang memperhatikan sifat-sifat dari sistem kehidupan manusia. Manusia akan terlihat saat bagiannya tidak dijumpai.
b)   Berasumsi bahwa individu dan lingkungan saling tukar-menukar energi dan material satu sama lain. Beberapa individu mendefenisikan lingkungan sebagai faktor eksternal pada seorang individu dan merupakan satu kesatuan yang utuh dari semua hal.
c)   Bahwa proses kehidupan manusia merupakan hal yang tetap dan saling bergantung dalam satu kesatuan ruang waktu secara terus menerus. Akibatnya seorang individu tidak akan pernah kembali atau menjadi seperti yang diharapkan semula.
d)  Perilaku pada individu merupakan suatu bentuk kesatuan yang inovatif.
e)   Manusia bercirikan mempunyai kemampuan untuk abstrak, membayangkan, bertutur bahasa dan berfikir, sensasi dan emosi. Dari seluruh bentuk kehidupan di dunia hanya manusia yang mampu berfikir dan menerima dan mempertimbangkan luasnya dunia.
Martha E. Roger mengemukakan empat konsep besar. Beliau menghadirkan lima asumsi tentang manusia. Tiap orang dikatakan sebagai suatu yang individu utuh. Manusia dan lingkungan selalu saling bertukar energi. Proses yang terjadi dalam kehidupan seseorang tidak dapat diubah dan berhubungan satu sama lain pada dimensi ruang dan waktu. Hal tersebut merupakan pola kehidupan. Pada akhirnya seseorang mampu berbicara, berfikir, merasakan, emosi, membayangkan dan memisahkan. Manusia mempunyai empat dimensi, medan energi negentropik dapat diketahui dari kebiasaan dan ditunjukkan dengan ciri-ciri dan tingkah laku yang berbeda satu sama lain dan tidak dapat diduga dengan ilmu pengetahuan yaitu lingkungan, keperawatan dan kesehatan.
e.    Human Caring (Watson)
Perawat harus memperhatikan sisi humanistik sebagai moral ideal ke pasien dan keluarga. Keperawatan sebagai sains tentang human care didasarkam pada asumsi bahwa human science and human care merupakan domain utama dan menyatukan tujuan keperawatan. Sebagai human science keperawatan berupaya mengintegrasikan pengetahuan empiris dengan estetika, humanities, dan kiat/art (Watson, 1985). Sebagai pengetahuan tentang human care fokusnya untuk mengembangkan pengetahuan yang menjadi inti keperawatan, seperti yang dinyatakan oleh Watson (1985) human care is the heart of nursing”. Pandangan tentang keperawatan sebagai science tentang human care adalah komprehensif.
Nilai-nilai yang mendasari konsep caring menurut Jean Watson meliputi konsep tentang manusia, kesehatan, lingkungan dan keperawatan. Adapun keempat konsep tersebut adalah sebagai berikut:
a)   Konsep tentang manusia
Manusia merupakan suatu fungsi yang utuh dari diri yang terintegrasi (ingin dirawat, dihormati, mendapatkan asuhan, dipahami dan dibantu). Manusia pada dasarnya ingin merasa dimiliki oleh lingkungan sekitarnya merasa dimiliki dan merasa menjadi bagian dari kelompok atau masyarakat, dan merasa dicintai dan merasa mencintai.
b)   Konsep tentang kesehatan
Kesehatan merupakan kuutuhan dan keharmonisan pikiran fungsi fisik dan fungsi sosial. Menekankan pada fungsi pemeliharaan dan adaptasi untuk meningkatkan fungsi dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Kesehatan merupakan keadaan terbebas dari keadaan penyakit, dan Jean Watson menekankan pada usaha-usaha yang dilakukan untuk mencapai hal tersebut.
c)   Konsep tentang lingkungan
Berdasarkan teori Jean Watson, caring dan nursing merupakan konstanta dalam setiap keadaan di masyarakat. Perilaku caring tidak diwariskan dari generasi ke generasi berikutnya, akan tetapi hal tersebut diwariskan dengan pengaruh budaya sebagai strategi untuk melakukan mekanisme koping terhadap lingkungan tertentu.
d)   Konsep tentang keperawatan
Keperawatan berfokus pada promosi kesehatan, pencegahan penyakit dan caring ditujukan untuk klien baik dalam keadaan sakit maupun sehat.

f.     Model Konsep Adaptasi Roy
Model konsep adaptasi pertama kali dikemukakan oleh Suster Callista Roy (1969). Konsep ini dikembangkan dari konsep individu dan proses adaptasi seperti diuraikan di bawah ini. Asumsi dasar model adaptasi Roy adalah :
a)   Manusia adalah keseluruhan dari biopsikologi dan sosial yang terus-menerus berinteraksi dengan lingkungan.
b)   Manusia menggunakan mekanisme pertahanan untuk mengatasi perubahan-perubahan biopsikososial.
c)   Setiap orang memahami bagaimana individu mempunyai batas kemampuan untuk beradaptasi. Pada dasarnya manusia memberikan respon terhadap semua rangsangan baik positif maupun negatif.
d)  Kemampuan adaptasi manusia berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya, jika seseorang dapat menyesuaikan diri dengan perubahan maka ia mempunyai kemampuan untuk menghadapi rangsangan baik positif maupun negatif.
e)   Sehat dan sakit merupakan adalah suatu hal yang tidak dapat dihindari dari kehidupan manusia
Empat elemen penting yang termasuk dalam Model Adaptasi Keperawatan adalah :
a)   Manusia
b)   Lingkungan
c)   Sehat
d)  Keperawatan.
Unsur keperawatan terdiri dari dua bagian yaitu tujuan keperawatan dan aktivitas keperawatan. Juga termasuk dalam elemen penting pada konsep adaptasi.
a)       Manusia
Roy mengemukakan bahwa manusia sebagai sebuah sistem adaptif. Sebagai sistem adaptif, manusia dapat digambarkan secara holistik sebagai satu kesatuan yang mempunyai input, kontrol, out put dan proses umpan balik. Proses kontrol adalah mekanisme koping yang dimanifestasikan dengan cara- cara adaptasi. Lebih spesifik manusia didefenisikan sebagai sebuah sistem adaptif dengan aktivitas kognator dan regulator untuk mempertahankan adaptasi dalam empat cara-cara adaptasi yaitu : fungsi fisiologis, konsep diri, fungsi peran dan interdependensi.
Dalam model adaptasi keperawatan, manusia dijelaskan sebagai suatu sistem yang hidup, terbuka dan adaptif yang dapat mengalami kekuatan dan zat dengan perubahan lingkungan. Sebagai sistem adaptif manusia dapat digambarkan dalam istilah karakteristik sistem, jadi manusia dilihat sebagai satu-kesatuan yang saling berhubungan antara unit fungsional secara keseluruhan atau beberapa unit fungsional untuk beberapa tujuan.
Input pada manusia sebagai suatu sistem adaptasi adalah dengan menerima masukan dari lingkungan luar dan lingkungan dalam diri individu itu sendiri. Input atau stimulus termasuk variabel standar yang berlawanan yang umpan baliknya dapat dibandingkan. Variabel standar ini adalah stimulus internal yang mempunyai tingkat adaptasi dan mewakili dari rentang stimulus manusia yang dapat ditoleransi dengan usaha-usaha yang biasa dilakukan. Proses kontrol manusia sebagai suatu sistem adaptasi adalah mekanisme koping. Dua mekanisme koping yang telah diidentifikasi yaitu : subsistem regulator dan subsistem kognator. Regulator dan kognator digambarkan sebagai aksi dalam hubungannya terhadap empat efektor atau cara-cara adaptasi yaitu : fungsi fisiologis, konsep diri, fungsi peran dan interdependen.
b)      Lingkungan
Lingkungan digambarkan sebagai dunia di dalam dan di luar manusia. Lingkungan merupakan masukan (input) bagi manusia sebagai sistem yang adaptif sama halnya lingkungan sebagai stimulus internal dan eksternal. Lebih lanjut stimulus itu dikelompokkan menjadi tiga jenis stimulus yaitu : fokal, kontekstual dan residual.
-    Stimulus fokal yaitu rangsangan yang berhubungan langsung dengan perubahan lingkungan misalnya polusi udara dapat menyebabkan infeksi paru, kehilangan suhu pada bayi yang baru lahir.
-    Stimulus kontekstual yaitu : stimulus yang menunjang terjadinya sakit (faktor presipitasi) keadaan tidak sehat. Keadaan ini tidak terlihat langsung pada saat ini. Misalnya : daya tahan tubuh yang menurun, lingkungan yang tidak sehat.
-    Stimulus residual yaitu : sikap, keyakinan dan pemahaman individu yang dapat mempengaruhi terjadinya keadaan tidak sehat atau disebut dengan faktor presdiposisi sehingga terjadi kondisi fokal. Misalnya : persepsi klien tentang penyakit, gaya hidup dan fungsi peran.
Lebih luas lagi lingkungan didefinisikan sebagai segala kondisi, keadaan di sekitar yang mempengaruhi keadaan, perkembangan dan perilaku manusia sebagai individu atau kelompok.
c)      Sehat
Menurut Roy, kesehatan didefinisikan sebagai keadaan dan proses menjadi manusia secara utuh dan terintegrasi secara keseluruhan. Integritas atau keutuhan manusia menyatakan secara tidak langsung bahwa kesehatan atau kondisi tidak terganggu mengacu kelengkapan atau kesatuan dan kemungkinan tertinggi dari pemenuhan potensi manusia. Jadi integrasi adalah sehat, sebaliknya kondisi yang tidak ada integrasi adalah kurang sehat. Definisi kesehatan ini lebih dari tidak adanya sakit tapi termasuk penekanan pada kondisi sehat sejahtera.
Dalam model adaptasi keperawatan, konsep sehat dihubungkan dengan konsep adaptasi. Adaptasi yang bebas energi dari koping yang inefektif dan mengizinkan manusia berespons terhadap stimulus yang lain. Adaptasi adalah komponen pusat dalam model adaptasi keperawatan. Di dalamnya menggambarkan manusia sebagai sistem adaptif. Proses adaptasi termasuk semua interaksi manusia dan lingkungan terdiri dari dua proses. Bagian pertama dari proses ini dimulai dengan perubahan dalam lingkungan internal dan eksternal yang membutuhkan sebuah respons.
Perubahan- perubahan itu adalah stresor atau stimulus fokal dan ditengahi oleh faktor- faktor kontekstual dan residual. Bagian kedua adalah mekanisme koping yang merangsang untuk menghasilkan respons adaptif atau inefektif. Produk adaptasi adalah hasil dari proses adaptasi dan digambarkan dalam istilah kondisi yang meningkatkan tujuan-tujuan manusia yang meliputi : kelangsungan hidup, pertumbuhan, reproduksi dan penguasaan yang disebut integritas.
Kondisi akhir ini adalah kondisi keseimbangan dinamik equilibrium yang meliputi peningkatan dan penurunan respons. Setiap kondisi adaptasi baru dipengaruhi oleh tingkat adaptasi, sehingga dinamik equilibrium manusia berada pada tingkat yang lebih tinggi. Jarak yang besar dari stimulus dapat disepakati dengan suksesnya manusia sebagai sistem adaptif. Jadi peningkatan adaptasi mengarah pada tingkat-tingkat yang lebih tinggi pada keadaan sejahtera atau sehat.
7)   Jenis Institusi Pelayanan Homecare
Ada beberapa jenis institusi yang dapat memberikan layanan homecare antara lainInstitusi pemerintah Di Indonesia pelayanan home care yang telah lama berlangsungdilakukan adalah dalam bentuk perawatan kasus/keluarga resiko tinggi (baik ibu, bayi, balita maupun lansia) yang dilaksanakan oleh tenaga keperawatan puskesmas (digaji oleh pemerintah). Klien yang dilayani oleh puskesmas biasanya adalah kalangan menengah ke bawah. Di Amerika hal ini dilakukan oleh visiting nurse. Institusi sosial yangmelaksanakan pelayanan home care dengan sukarela dan tidak memungut biaya Biasanyadilakukan oleh LSM atau organisasi keagamaan dengan penyandang dananya daridonatur, misalnya bala keselamatan yang melakukan kunjungan rumah kepada keluargayang membutuhkan sebagai wujud pengabdian pada Tuhan. Institusi swasta dalam bentuk praktik mandiri baik perorangan maupun kelompok yang menyelenggarakan pelayanan home care dengan menerima imbalan jasa baik secara langsung dari klienmaupun pembayaran melalui pihak ketiga (asuransi). Sebagaimana layaknya layanankesehtan swasta tentu tidak berorientasi not for profit services.Hospital home care. Merupakan perawatan lanjutan pada klien yang telah dirawat dirumah sakit, keluarga masih memerlukan bantuan layanan keperawatan, makadilanjutkan di rumah.
8)   Mekanisme perawatan kesehatan di rumah
Pasien/ klien yang memperoleh pelayanan keperawatan di rumah dapat merupakanrujukan dari klinik rawat jalan, unit rawat inap rumah sakit, maupun puskesmas . namun pasien/ klien dapat langsung menghubungi agensi pelayanan keperawatan di rumah atau praktek keperawatan per orangan untuk memperoleh pelayanan.Mekanisme yang harus di lakukan adalah sebagai berikut:
a.    Pasien / klien pasca rawat inap atau rawat jalan harus diperiksa terlebih dahulu olehdokter untuk menentukan apakah secara medis layak untuk di rawat di rumah atau tidak.
b.   Selanjutnya apabila dokter telah menetapkan bahwa klien layak dirawat di rumah,maka di lakukan pengkajian oleh koordinator kasus yang merupakan staf dari pengelolaatau agensi perawatan kesehatan dirumah, kemudian bersama-sama klien dan keluarga,akan menentukan masalahnya, dan membuat perencanaan, membuat keputusan, membuatkesepakatan mengenai pelayanan apa yang akan diterima oleh klien, kesepakatan jugamencakup jenis pelayanan, jenis peralatan, dan jenis sistem pembayaran, serta jangkawaktu pelayanan.
c.    Selanjutnya klien akan menerima pelayanan dari pelaksana pelayanan keperawatan dirumah baik dari pelaksana pelayanan yang dikontrak atau pelaksana yang direkrut oleh pengelola perawatan dirumah. Pelayanan dikoordinir dan dikendalikan oleh koordinator kasus, setiap kegiatan yang dilaksanakan oleh tenaga pelaksana pelayanan harusdiketahui oleh koordinator kasus.
d.   Secara periodic koordinator kasus akan melakukan monitoring dan evaluasi terhadap pelayanan yang diberikan apakah sudah sesuai dengan kesepakatan.
9)   Skill Dasar Yang Harus Dikuasai Perawat
Berdasarkan SK Dirjen Dirjen YAN MED NO HK. 00.06.5.1.311 terdapat 23 tindakan keperawatan mandiri yang bisa dilakukan oleh perawat home care antara lain :
a.    Vital sign
b.   Memasang nasogastric tube
c.    Memasang selang susu besar
d.   Memasang cateter
e.    Penggantian tube pernafasan
f.    Merawat luka dekubitus
g.   Suction
h.   Memasang peralatan O2
i.     Penyuntikan (IV,IM, IC,SC)
j.     Pemasangan infus maupun obat
k.   Pengambilan preparat
l.     Pemberian huknah/laksatif
m. Kebersihan diri
n.   Latihan dalam rangka rehabilitasi medis
o.   Tranpostasi klien untuk pelaksanaan pemeriksaan diagnostik
p.   Pendidikan kesehatan
q.   Konseling kasus terminal
r.     Konsultasi/telepon
s.    Fasilitasi ke dokter rujukan
t.     Menyiapkan menu makanan
u.   Membersihkan tempat tidur pasien
v.   Fasilitasi kegiatan sosial pasien
w. Fasilitasi perbaikan sarana klien.
Sedangkan kompetensi dasar yang harus dimiliki dalam melaksanakan tindakan home care antara lain:
a.    Memahami dasar-dasar anatomi, fisiologi, patologi tubuh secara umum
-       Menjelaskan anatomi, fisiologi, patologi sebagai sistem tubuh secara umum .
-       Menjelaskan konsep dasar homeostasis, dan patogenesis.
b.   Melaksanakan pemberian obat kepada klien/pasien
-       Menjelaskan cara-cara pemberian obat kepada pasien.
-       Melakukan pemberian obat kepada pasien sesuai resep dokter.
c.    Memahami jenis  pemeriksaan laboratorium dasar yang diperlukan oleh klien/pasien
-       Menjelaskan jenis pemeriksaan laboratorium dasar yang diperlukan oleh klien/pasien.
-       Menjelaskan persiapan klien/pasien yang akan diperiksa di laboratorium.
-       Mengantarkan klien/pasien untuk periksa di laboratorium.
d.   Menunjukan kemampuan melakukan komunikasi terapeutik
-       Menjelaskan definisi komunikasi terapeutik
-       Menjelaskan fungsi, dan manfaat komunikasi terapeutik.
-       Melaksanakan setiap tindakan keperawatan menggunakan komunikasi terapeutik.
e.    Menunjukan kemampuan  mengasuh bayi, balita, anak, dan lansia sesuai tingkat perkembangan
-       Membangun hubungan antar manusia
-       Mengoptimalkan komunikasi terapeutik
-       Mengidentifikasi kebutuhan dasar manusia
-       Merencanakan kebutuhan dasar manusia
f.    Menunjukan kemampuan melayani klien/pasien berpenyakit ringan
-       Membangun hubungan antar manusia
-       Mengoptimalkan komunikasi terapeutik
-       Mengidentifikasi kebutuhan dasar klien/pasien
-       Merencanakan kebutuhan dasar klien/pasien
-       Melaksanakan kebutuhan dasar klien/ pasien
-       Mendokumentasikan hasil pelaksanaan kebutuhan pasien/klien yang penyakit ringan.
g.   Menerapkan Keselamatan, Kesehatan Kerja dan Lingkungan Hidup (K3LH)
-       Mendeskripsikan keselamatan dan kesehatan kerja (K3)
-       Melaksanakan prosedur K3
-       Menerapkan konsep lingkungan hidup
-       Menerapkan ketentuan pertolongan pertama pada kecelakaan
h.   Memahami kontinum sehat- sakit
-       Menjelaskan keseimbangan tubuh manusia normal
-       Menjelaskan definisi sehat-sakit
-       Menjelaskan model-model sehat dan sakit
-       Menjelaskan nilai-nilai yang mempengaruhi kesehatan
-       Menjelaskan peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit
-       Menjelaskan faktor-faktor resiko dalam kehidupan manusia
-       Menjelaskan dampak sakit pada klien/pasien dan keluarga.
i.     Memahami dasar-dasar penyakit sederhana yang umum di masyarakat
-       Menjelaskan penyakit–penyakit sistem integumen sederhana yang umum di masyarakat.
-       Menjelaskan penyakit–penyakit sistem gastro intestinal sederhana yang umum di masyarakat.
-       Menjelaskan penyakit-penyakit sistem genito urinaria sederhana yang umum di masyarakat
-       Menjelaskan penyakit–penyakit sistem respiratori sederhana yang umum di masyarakat.
-       Menjelaskan penyakit–penyakit sistem kardio vaskuler sederhana yang umum di masyarakat.
-       Menjelaskan penyakit–penyakit sistem persarafan sederhana yang umum di masyarakat.
-       Menjelaskan penyakit–penyakit sistem reproduksi sederhana yang umum di masyarakat.
j.     Memahami peningkatan kesehatan dan pelayanan kesehatan utama
-       Menjelaskan tindakan peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit
-       Menjelaskan tindakan pelayanan kesehatan utama
-       Menjelaskan peran asisten perawat dalam pemberian perawatan utama.
k.   Memahami pemberian obat
-       Menjelaskan nomenklatur dan bentuk obat oral
-       Menjelaskan faktor yang mempengaruhi kerja obat
-       Menjelaskan kemampuan memberikan obat oral.
-       Memahami kemampuan interpersonal dan massa
-       Menjelaskan berbagai tingkatan komunikasi
-       Menjelaskan proses komunikasi
-       Menjelaskan bentuk-bentuk komunikasi
-       Menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi komunikasi
-       Mendiskusikan komunikasi terapeutik
-       Menjelaskan bantuan dalam berkomunikasi.
l.     Prinsip-prinsip perkembangan manusia
-       Menjelaskan teori pertumbuhan dan perkembangan manusia
-       Menjelaskan tahap pertumbuhan dan perkembangan manusia
-       Menjelaskan tentang konsepsi
-       Menjelaskan proses kelahiran.
m. Memahami tahap-tahap perkemangan manusia
-       Menjelaskan perkembangan masa bayi
-       Menjelaskan perkembangan masa balita
-       Menjelaskan perkembangan anak masa usia sekolah
-       Menjelaskan perkembangan masa remaja
-       Menjelaskan perkembangan masa
n.   Dewasa muda
-       Menjelaskan perkembangan masa dewasa
-       Menjelaskan perkembangan masa lansia.
o.   Memahami sikap pelayanan perawat sesuai dengan tahapan perkembangan
-       Menjelaskan sikap perawat terhadap klien/pasien sesuai dengan tahap
perkembangan
-       Menjelaskan pelayanan perawatan kesehatan komunitas dan panti.
p.   Memahami tentang stres
-       Menjelaskan konsep stres
-       Menjelaskan adaptasi terhadap stres
-       Menjelaskan respon terhadap stres
-       Menjelaskan proses keperawatan dan adaptasi terhadap stres.
q.   Memahami kebutuhan dasar manusia
-       Menjelaskan kebutuhan fisiologis manusia
-       Menjelaskan kebutuhan keselamatan dan rasa aman
-       Menjelaskan kebutuhan cinta dan rasa memiliki
-       Menjelaskan kebutuhan penghargaan  dan harga diri
-       Menjelaskan kebutuhan aktualisasi diri.
r.     Memahami tentang kesehatan reproduksi
-       Menjelaskan konsep kesehatan reproduksi
-       Menjelaskan anatomi dan fisiologi alat reproduksi
-       Menjelaskan masalah yang berhubungan dengan kesehatan
reproduksi.
s.    Memahami perilaku empatik. Menjelaskan sikap empatik terhadap kehilangn, kematian, duka cita saat melakukan tindakan keperawatan
-       Menjelaskan bantuan yang diberikan sesuai dengan agama, dan kebutuhan
spiritual klien tersebut.
t.     Melakukan pemeriksaan tanda-tanda vital
-       Menjelaskan pedoman untuk mengukur tanda vital
-        Menjelaskan tentang pengukuran suhu tubuh
-       Melaksanakan pengukuran nafas
-       Melaksanakan pengukuran nadi.
u.   Melakukan mobilisasi pasif terhadap klien/pasien
-       Menjelaskan tentang mobilisasi dan pengaturan gerak
-       Menjelaskan gangguan mobilisasi
-       Menjelaskan latihan mobilisasi
-       Menunjukan kemampuan melakukan mobilisasi pasif dan aktif
-       Menjelaskan gangguan mobilisasi.
v.   Melakukan pemberian nutrisi .Menjelaskan nutrisi seimbang
-       Menunjukan kemampuan memberikan makan peroral pada pasien/klien.
w. Melaksanakan dokumentasi tindakan keperawatan
-       Menjelaskan komunikasi multidisiplin dalam tim
-       Membuat dokumentasi sesuai dengan pedoman.
x.   Melaksanakan tugas sesuai dengan etika keperawatan, dan kaidah hukum
-       Menjelaskan pentingnya etika dan hukum keperawatan dalam
melaksanakan tugas
-       Melakukan perilaku kinerja asisten perawat sesuai dengan etika dan hokum keperawatan.
10)     Fase- Fase Keperawatan Home Care
a.    fase persiapan
Struktur organisasi, yang didalamnya ada pimpinan home care, manager administrasi,manager pelayanan, koordinator kasus dan pelaksana pelayanan.PerizinanMekanisme perizinan pendirian home care sebagai berikut : Berbadan hukum ygditetapkan dlm akte notaris Mengajukan ijin usaha Home care kpd Dinkes Kab/Kotasetempat dg melampirkan :
a)   Rekomendasi dari PPNI 
b)   Ijin lokasi bangunan
c)   Ijin lingkungan
d)  ijin usaha
e)   Persyaratan tata ruang bangunan meliputi :
-    ruang direktur - ruang menajemen pely
-    gudang sarana dan peralatan
-    sarana komunikasi
-    sarana transportasif.
f)    Ijin persyaratan tenaga meliputi ijin praktek profesi dan sertifikasi home care Daftar tarif dibuat berdasarkan dengan memperhatikan standar harga di wilayah tempat berdirinya home care dengan memperhatikan golongan ekonomi lemah Sarana danPrasarana, meliputi set alat yang sering dipakai seperti perawatan luka, perawatan bayi,nebulizier, aksigen, suction dan juga peralatan komputer dan perlengkapan kantor.Format askep, meliputi format register, pengkajian, tindakan, rekap alat/bahan yangterpakai, evaluasi dari perawat ataupun dari pasien/keluarga.Form informed consent, meliputi persetujuan tindakan dari pasien dan keluarga, persetujuan pembiayaan dan keikutsertaaan dalam perawatan.Surat Perjanjian kerjasama antara profesi lain seperti misalnya fisioterapi, dokter,laboratorium, radiologi dan juga dinas sosial.Transportasi terutama untuk perawat homecare dan juga transportasi pasien bila sewaktu-waktu perlu rujukan ke rumah sakit atautempat pelayanan lainnya. Sistem gaji/upah personil home care. Sistem ini harus lebih berorientasi pada kepentingan perawat pelaksana bukan keuntungan manajemen semata.Sistem penggajian bisa dalam bentuk bulanan atau dibuat dalam setiap kali selesaimerawat pasien.
b.   Fase implementasi
Case manager menugaskan surveyor untuk melakukan pengkajian kebutuhan klien dan perawat pelaksana untuk merawat klien. Hasil pengkajian awal sebagai referensi untuk merencanakan kebutuhan klien selanjutnya dan dibuat kesepakatan dengan keluarga(waktu, biaya dan sistem perawatan yg dipilih). Surveyor memantau pelaksanaan pelayanan keperawatan oleh perawat pelaksana.
c.    Fase terminasi
Perawat menyelesaikan tugas sesuai kontrak yg disepakati surveyor menyerahkan rekap peralatan dan biaya selama perawatan. Kolektor melak kunjungan ke klg untuk  penyelesaian administrasi.
d.   Fase pasca kunjungan
Evaluasi pelayanan home care pada pasien/keluarga dengan- angket- pertelepon- lewat email- KunjunganMengenai : pely perawtan, komunikasi, sarana, dll
11)     Issue Dasar dan Legal Praktik Keperawatan home care
Secara legal perawat dapat melakukan aktivitas keperawatan mandiri berdasarkan pendidikan dan pengalaman yang di miliki. Perawat dapat mengevaluasi klien untuk mendapatkan pelayanan perawatan di rumah tanpa program medis tetapi perawatan tersebut harus diberikan di bawah petunjuk rencana tindakan tertulis yang ditandatangani oleh dokter. Perawat yang memberi pelayanan di rumah membuat rencana perawatan dan kemudian bekerja sama dengan dokter untuk menentukan rencana tindakan medis.
Issue legal yang paling kontroversial dalam praktik perawatan di rumah antara lain mencakup hal-hal sebagai berikut:
a. Resiko yang berhubungan dengan pelaksanaan prosedur dengan teknik yang tinggi, seperti pemberian pengobatan dan transfusi darah melalui IV di rumah.
b.Aspek legal dari pendidikan yang diberikan pada klien seperti pertanggungjawaban terhadap kesalahan yang dilakukan oleh anggota keluarga karena kesalahan informasi dari perawat.
c. Pelaksanaan peraturan medicare atau peraturan pemerintah lainnya tentang perawatan di rumah.
Alasan biaya yang sangat terpisah dan terbatas untuk perawatan di rumah, maka perawat yang memberi perawatan di rumah harus menentukan apakah pelayanan akan diberikan jika ada resiko penggantian biaya yang tidak adekuat. Seringkali, tunjangan dari medicare telah habis masa berlakunya sedangkan klien membutuhkan perawatan yang terus-menerus tetapi tidak ingin atau tidak mampu membayar biayanya. Beberapa perawat akan menghadapi dilema etis bila mereka harus memilih antara menaati peraturan atau memenuhi kebutuhan untuk klien lansia, miskin dan klien yang menderita penyakit kronik. Perawat harus mengetahui kebijakan tentang perawatan di rumah untuk melengkapi dokumentasi klinis yang akan memberikan penggantian biaya yang optimal untuk klien.
Pasal krusial dalam Keputusan Menteri Kesehatan ( Kepmenkes )  1239/2001 tentang praktik keperawatan anatara lain:
a. Melakukan asuhan keperawatan meliputi Pengkajian, penetapan diagnosa keperawatan, perencanaan, melaksanakan tindakan dan evaluasi.
b.Pelayanan tindakan medik hanya dapat dilakukan atas permintaan tertulis dokter
c. Dalam melaksanakan kewenangan perawat berkewajiban :
-    Menghormati hak pasien
-    Merujuk kasus yang tidak dapat ditangani
-    Menyimpan rahasia sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku
-    Memberikan informasi
-    Meminta persetujuan tindakan yang dilakukan
-    Melakukan catatan perawatan dengan baik
d.                        Dalam keadaan darurat yang mengancam jiwa seseorang , perawat berwenang melakukan pelayanan kesehatan di luar kewenangan yang ditujukan untuk penyelamatan jiwa.
e. Perawat yang menjalankan praktik perorangan harus mencantumkan SIPP di ruang praktiknya
f. Perawat yang menjalankan praktik perorangan tidak diperbolehkan memasang papan praktik  (sedang dalam proses amandemen)
g.Perawat yang memiliki SIPP dapat melakukan asuhan dalam bentuk kunjungan rumah
h.Persyaratan praktik perorangan sekurang-kurangnya memenuhi :
-    Tempat praktik memenuhi syarat
-    Memiliki perlengkapan peralatan dan administrasi termasuk formulir /buku kunjungan, catatan tindakan dan formulir rujukan.
Larangan :
a. Perawat dilarang menjalankan praktik selain yang tercantum dalam izin dan melakukan perbuatan yang bertentangan dengan standar profesi
b.Bagi perawat yang memberikan pertolongan dalam keadaan darurat atau menjalankan tugas didaerah terpencil yang tidak ada tenaga kesehatan lain, dikecualikan dari larangan ini
c. Kepala dinas atau organisasi profesi dapat memberikan peringatan lisan atau tertulis kepada perawat yang melakukan pelanggaran
d.                        Peringatan tertulis diberikan paling banyak 3 kali, apabila tidak diindahkan SIK dan SIPP dapat dicabut.
e. Sebelum SIK atau SIPP di cabut kepala dinas kesehatan terlebih dahulu mendengar pertimbangan dari MDTK atau MP2EM.
Sanksi :
a. Pelanggaran ringan , pencabutan izin selama-lamanya 3 bulan.
b.Pelanggaran sedang , pencabutan izin selama-lamanya 6 bulan .
c. Pelanggaran berat, pencabutan izin selama-lamanya 1 tahun.
d.                        Penetapan pelanggaran didasarkan pada motif pelanggaran serta situasi setempat.
12)     Mekanisme Pelayanan Home Care
Pasien/ klien yang memperoleh pelayanan keperawatan di rumah dapat merupakan rujukan dari klinik rawat jalan, unit rawat inap rumah sakit, maupun puskesmas, namun pasien/ klien dapat langsung menghubungi agensi pelayanan keperawatan di rumah atau praktek keperawatan per orangan untuk memperoleh pelayanan. Mekanisme yang harus di lakukan adalah sebagai berikut:
a. Pasien / klien pasca rawat inap atau rawat jalan harus diperiksa terlebih dahulu oleh dokter untuk menentukan apakah secara medis layak untuk di rawat di rumah atau tidak.
b.Selanjutnya apabila dokter telah menetapkan bahwa klien layak dirawat di rumah, maka di lakukan pengkajian oleh koordinator kasus yang merupakan staf dari pengelola atau agensi perawatan kesehatan dirumah, kemudian bersama-sama klien dan keluarga, akan menentukan masalahnya, dan membuat perencanaan, membuat keputusan, membuat kesepakatan mengenai pelayanan apa yang akan diterima oleh klien, kesepakatan juga mencakup jenis pelayanan, jenis peralatan, dan jenis sistem pembayaran, serta jangka waktu pelayanan.
c. Selanjutnya klien akan menerima pelayanan dari pelaksana pelayanan keperawatan dirumah baik dari pelaksana pelayanan yang dikontrak atau pelaksana yang direkrut oleh pengelola perawatan dirumah. Pelayanan dikoordinir dan dikendalikan oleh koordinator kasus, setiap kegiatan yang dilaksanakan oleh tenaga pelaksana pelayanan harus diketahui oleh koordinator kasus.
d.                        Secara periodik koordinator kasus akan melakukan monitoring dan evaluasi terhadap pelayanan yang diberikan apakah sudah sesuai dengan kesepakatan.


Ada beberapa persyaratan, hak, dan kewajiban unsur pelayanan home care:
1.      Pengelola
a.    Persyaratan Pengelola :
a)   Merupakan bagian institusi pelayanan kesehatan pemerintah atau swasta atau unit mandiri yg berbadan hukum.
b)   Mendapat ijin mengelola dari Pemda dengan rekomendasi dari Dinkes.
c)   Memiliki kantor dengan alamat jelas.
d)  Memiliki sarana komunikasi.
e)   Memiliki peralatan pelayanan kesehatan.
f)    Mampu menyediakan transportasi yang dibutuhkan klien.
g)   Memiliki tenaga (pimpinan, administrasi dan perawat minimal D3 yg purna waktu)
h)   Mampu menyediakan tenaga profesional atau non yg bersertifikat pelatihan home care.
i)     Punya kerjasama dengan Rumah Sakit rujukan.
b.   Hak Pengelola :
a)Mengelola home care sesuai standar .
b)   Menerima hak imbalan jasa .
c)Punya akses dg pemerintah yg mengendalikan home care.
d)  Mendapat dukungan dari pelaksana yan dan klien atas pengelolaan yg menjadi tanggung jawabnya.
e)Menetapkan tenaga pelaksana pelayanan home care.
f) Menetapkan mitra kerja yang mendukung home care.
c.    Kewajiban Pengelola :
a)   Menjamin pelayanan profesional dan bermutu.
b)   Mematuhi kontrak
c)   Memberikan perlakuan yang baik kepada pelaksana dan klien.
d)  Meningkatkan pengetahuan pelaksana pelayanan.
e)   Menyediakan sarana administrasi .
f)    Mematuhi peraturan yg berlaku terkait home care .
g)   Menerapkan sistem reward dan punishment
h)   Melaksanakan pengawasan, pengendalian thd kinerja pelaksana
i)     Melaksanakan kewajiban yg harus diberikan kepada pelaksana yan dan klien.
2.      Koordinator Kasus
a.    Syarat Koordinator Kasus :
a)   Minimal berumur 21 tahun
b)   Minimal pendidikan D3 Keperawatan
c)   Koordinator kasus harus punya sertifikat pelatihan home care.
d)  Mampu melakukan pengkajian awal dan melakukan analisis terhadap kasus
e)   Mampu memimpin bekerjasama dalam tim.
f)    Mampu memberikan yan sesuai etika.
g)   Mampu melaksanakan bimbingan tehnis, monitoring dan evaluasi.
b.    Hak Koordinator Kasus
a)   Mengetahui hak dan kewajiban secara tertulis
b)   Berhak atas imbalan jasa sesuai perjanjian
c)   Berhak mendapat perlakuan sesuai norma yang ada
d)  Berhak memperoleh tugas, prosedur atau tindakan medis diluar job diskripsionnya
e)   Memperoleh informasi terkait perubahan pelayanan
f)    Mempunyai akses kepada pemerintah yg mengendalikan home care.
g)   Berhak mengemukakan pendapat dalam upaya peningkatan mutu pelayanan.
h)   Mendapat perlindungan hukum atas tindakan yang dilakukan, diterima dan dirasakan merugikan .
i)     Mendapat dukungan dari pengelola dan klien .
3.      Pelaksana
a.   Syarat Pelaksana :
a)   Usia minimal 21 tahun
b)   Punya ijasah formal.
c)   Punya sertifikat pelatihan home care.
d)  Mampu memberikan yan sec mandiri dan bertanggung jawab.
e)   Mampu bekerja sesuai SOP yang ada .
f)    Mampu melaksanakan tindakan sesuai etika.
b.   Hak Pelaksana :
a)   Mengetahui hak dan kewajiban secara tertulis
b)   Berhak atas imbalan jasa sesuai perjanjian
c)   Berhak mendapat perlakuan sesuai norm yang ada
d)  Berhak menolak tugas, prosedur atau tindakan medis di luar job diskripsion
e)   Memperoleh informasi terkait perubahan pelayanan.
f)    Mempunyai akses kepada pemerintah yg mengendalikan homecare
g)   Berhak mengemukakan pendapat dlm upaya peningkatan mutu yan
h)   Mendapat perlindungan hukum atas tindakan yg dilakukan, diterima dan dirasakan merugikan
i)     Mendapat dukungan dari pengelola dan klien .
c.   Kewajiban Pelaksana :
a)   Mentaati peraturan dan disiplin kerja
b)   Memberikan pelayanan yg bermutu sesuai standar yg ditetapkan
c)   Merahasiakan segala hal terkait kondisi klien
d)  Melaksanakn tugas sesuai rencana yan yang telah disepakati
e)   Bekerjasama dan saling mendukung dg tenaga pelaksana lain
f)    Mematuhi perjanjian kerja yang sudah dibuat
g)   Mengharagai hak hak klien
h)   Membuat laporan rutin kepada penanggung jawab pelayanan .
4.      Pasien/ Klien
a.    Persyaratan pasien / klien
a)   Mempunyai keluarga atau pihak lain yang bertanggungjawab atau menjadi pendamping bagi klien dalam berinteraksi dengan pengelola
b)   Bersedia menandatangani persetujuan setelah diberikan informasi (Informed consent).
c)   Bersedia melakukan perjanjian kerja dengan pengelola perawatan kesehatan dirumah untuk memenuhi kewajiban, tanggung jawab, dan haknya dalam menerima pelayanan.
b.    Hak Klien :
a)   Memperoleh informasi tentang hak dan kewajiban.
b)   Mendapat pelayanan profesional.
c)   Ikut berpartisipasi dalam rencana dan pelaksanaan pelayanan.
d)  Memperoleh perlakuan yang layak.
e)   Memperoleh seluruh catatan klinis.
f)    Mendapat pelayanan yang layak.
g)   Mendapat informasi terkait perubahan yang ada.
h)   Mendapat perlindungan hukum atas tindakan yang diterima .
i)     Memperoleh akses ke pemerintah yang mengendalikan home care.
j)     Menolak tindakan setelah mendapat informasi lengkap .
c.    Kewajiban Klien :
a)   Mematuhui perjanjian
b)   Mentaati rencana yang telah dibuat .
c)   Membayar jasa pelayanan.
d)  Bekerjasama dengan pelaksana .
e)   Menghargai hak pelaksana
2.   Desa Siaga
Dalam rangka memantapkan sistem Siaga, Dinas Kesehatan Kota Cimahi menyelenggarakan Pelatihan Pengorganisasian Desa Siaga pada tanggal 23 – 25 April 2012 di Aula Puskesmas Cimahi Tengah.
Hadir membuka acara dr. Hj. Endang Kesuma Wardani, Kepala Dinas Kesehatan Kota Cimahi. Dalam sambutannya dr. Endang mengatakan bahwa sistem Siaga merupakan pengembangan dari Gerakan Sayang Ibu (GSI). Dengan mengedepankan partisipasi masyarakat, bukan hanya Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) saja yang terus ditekan dalam sistem Siaga, tetapi bagaimana Usia Harapan Hidup (UHH) masyarakat pun dapat meningkat. Melalui pelatihan yang difasilitasi oleh Health Services Program (SHP) ini, diharapkan Kota Cimahi dapat memenuhi target pembentukan sistem Siaga di seluruh tingkatan Rukun Warga.
Pada tahun 2006 dan 2007, terdapat masing-masing 10 kasus kematian ibu bersalin di Kota Cimahi. Sejak awal tahun 2008 hingga hari pelaksanaan pelatihan ini, tercatat 1 kasus kematian ibu bersalin di Kecamatan Cimahi Selatan. Hal ini terungkap saat paparan Kebijakan Desa Siaga Provinsi Jawa Barat oleh drg. Pratiwi, M.Kes., Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Masyarakat, Dinas Kesehatan Kota Cimahi.
Diundang sebagai peserta pelatihan adalah perwakilan PKK Kota Cimahi, BPMKB Kota Cimahi, Kesra Kota Cimahi, 3 Kecamatan di Kota Cimahi, 15 Ketua LPM tingkat kelurahan di Kota Cimahi, tenaga kesehatan Puskesmas di Kota Cimahi, dan Ketua Yayasan Eureka Indonesia (YEI) sebagai LSM kesehatan yang berkedudukan di Kota Cimahi.
Setelah paparan Kebijakan Desa Siaga Provinsi Jawa Barat, Materi pelatihan Desa Siaga disampaikan secara lengkap meliputi: Konsep, Komponen, dan Pesan Desa Siaga; Pemberdayaan Masyarakat dalam Sistem Desa Siaga; Pengorganisasian Masyarakat; Survey Mawas Diri (SMD); Musyawarah Masyarakat Desa (MMD); Format Alat Bantu dan Mekanisme Desa Siaga; Peran dan Fungsi Fasilitator Desa Siaga; Pendampingan dan Pelaporan Desa Siaga.
Di akhir pelatihan, disepakati pula Rencana Tindak Lanjut pengorganisasian RW Siaga. Peserta pelatihan berbagi tugas sebagai fasilitator untuk menggarap pengorganisasian 1 (satu) RW menjadi RW Siaga di masing-masing kelurahan tempat domisili atau wilayah kerjanya.
Selain mendapatkan tugas bersama-sama dengan fasilitator LPM Kelurahan Leuwigajah untuk menggarap RW 17, rencananya YEI pun akan turut membantu HSP dalam pendampingan perorganisasian RW Siaga di 14 kelurahan lainnya. Dengan pendampingan, diharapkan 15 RW yang dimaksud akan sukses digarap untuk kemudian direplikasi di semua RW lainnya yang belum mengorganisasikan sistem Siaga.
1)   Deskripsi Kasus
Sebuah program desa siaga yang dikhususkan bagi para ibu melahirkan ini merupakan sebuah hasil dari sebuah pemikiran yang sangat kontributif dalam menangani masalah – masalah yang terjadi pada ibu melahirkan. Desa siaga ini sangat fungsional dalam mengadakan sedikit pemulihan terhadap kondisi fisik para ibu melahirkan dimana yang pada usianya sekarang, ibu melahirkan sudah mengalami beberapa penurunan kualitas terhadap fungsi dari beberapa bagian anggota tubuhnya. Pemulihan anggota gerak dan peningkatan kebugaran adalah tonggak yang mendasari adanya desa siaga ini.
2)   Teori
Desa Siaga adalah desa yang penduduknya memiliki kesiapan sumber daya dan kemampuan serta kemauan untuk mencegah dan mengatasi masalah-masalah kesehatan, bencana dan kegawatdaruratan kesehatan secara mandiri. Sebuah Desa dikatakan menjadi desa siaga apabila desa tersebut telah memiliki sekurang-kurangnya sebuah Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) (Depkes, 2007).
Poskesdes adalah Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) yang dibentuk di desa dalam rangka mendekatkan/ menyediakan pelayanan kesehatan dasar bagi masyarakat desa. UKBM yang sudah dikenal luas oleh masyarakat yaitu Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu), Warung Obat Desa, Pondok Persalinan Desa (Polindes), Kelompok Pemakai Air, Arisan Jamban Keluarga dan lain-lain (Depkes, 2007).
Untuk dapat menyediakan pelayanan kesehatan dasar bagi masyarakat desa, Poskesdes memiliki kegiatan:
a.    Pengamatan epidemiologi sederhana terhadap penyakit terutama penyakit menular yang berpotensi menimbulkan
b.   Kejadian Luar Biasa (KLB) dan faktor resikonya termasuk status gizi serta kesehatan ibu hamil yang beresiko.
c.    Penanggulangan penyakit, terutama penyakit menular dan penyakit yang berpotensi menimbulkan KLB serta faktor resikonya termasuk kurang gizi.
d.   Kesiapsiagaan dan penanggulangan bencana dan kegawatdarutan kesehatan.
e.    Pelayanan medis dasar sesuai dengan kompetensinya.
f.    Promosi kesehatan untuk peningkatan keluarga sadar gizi, peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), penyehatan lingkungan dan lain-lain.
Dengan demikian Poskesdes diharapkan sebagai pusat pengembangan atau revitalisasi berbagai UKBM yang ada di masyarakat desa. Dalam melaksanakan kegiatan tersebut, Poskesdes harus didukung oleh sumber daya seperti tenaga kesehatan (minimal seorang bidan) dengan dibantu oleh sekurang-kurangnya 2 orang kader. Selain itu juga harus disediakan sarana fisik berupa bangunan, perlengkapan dan peralatan kesehatan serta sarana komunikasi seperti telepon, ponsel atau kurir.
Untuk sarana fisik Poskesdes dapat dilaksanakan melalui berbagai cara/alternatif yaitu mengembangkan Polindes yang telah ada menjadi Poskesdes, memanfaatkan bangunan yang sudah ada misalnya Balai Warga/RW, Balai Desa dan lain-lain serta membangun baru yaitu dengan pendanaan dari Pemerintah (Pusat atau Daerah), donatur, dunia usaha, atau swadaya masyarakat.
3)   Kriteria Desa Siaga
Kriteria desa siaga meliputi :
a.    Adanya forum masyarakat desa.
b.   Adanya pelayanan  kesehatan dasar
c.    Adanya UKBM Mandiri yang dibutuhkan masyarakat desa setempat
d.   Dibina Puskesmas Poned
e.    Memiliki system surveilans (faktor resiko dan penyakit) berbasis masyarakat.
f.    Memiliki system kewaspadaan dan kegawatdaruratan bencana berbasis masyarakat.
g.   Memiliki system pembiayaan kesehatan berbasis masyarakat.
h.   Memiliki lingkungan yang sehat.
i.     Masyarakatnya ber perilaku hidup bersih dan sehat.
4)   Tahapan desa siaga :
a.    Bina yaitu desa yang baru memiliki forum masyarakat desa, pelayanan kesehatan dasar, serta ada UKBM Mandiri.
b.   Tumbuh yaitu desa yang sudah lebih lengkap dengan criteria pada tahapan bina ditambah dengan dibina oeh puskesmas Poned, serta telah memiliki system surveilans yang berbasis masyarakat.
c.    Kembang yaitu desa dengan criteria tumbuh dan memiliki system kewaspadaan dan kegawatdaruratan bencana serta system pembiayaan kesehatan berbasis masyarakat yang telah berjalan.
d.   Paripurna yaitu desa yang telah memiliki seluruh criteria desa siaga.
5)   Opini
Ditinjau dari kondisi fisik pada ibu melahirkan yang mengalami banyak sekali penurunan kualitas, program semacam desa siaga yang kini tengah menjadi tren dalam ruang lingkup kesehatan, merupakan sebuah hal inovatif dan mampu bersifat progresif terhadap kondisi fisik para ibu melahirkan untuk menuju titik dimana keadaan kesehatan akan membaik dan dapat sedikit dikendalikan. Setidaknya banyak sekali hal yang bisa dikembangkan dari program ini seperti kolaborasi antara kegiatan fisik dan pemenuhan nutrisi yang diaplikasikan dalam pengaturan pola dan porsi makan.
6)   Ciri Pokok Desa Siaga
a.    Memiliki Pos Kesehatan Desa (poskesdes) sbg UKBM (Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat), (dapat dikembangkan dari Pondok Bersalin Desa) yang juga berfungsi memberikan pelayanan kesehatan dasar.
b.    Memiliki sistem surveilans (penyakit, gizi, kesling, & PHBS) berbasis masyarakat yang berfungsi dengan baik
c.     Memiliki sistem pelayanan gawat darurat (safe community) berbasis masyarakat yang berfungsi dengan baik
d.    Memiliki sistem pembiayaan kesehatan berbasis masyarakat (mandiri dalam pembiayaan kesehatan)
e.     Masyarakat berperilaku hidup bersih & sehat (PHBS) & menyelenggarakan UKBM2 yang diperlukan
7)   Desa Siaga Basis Indonesia Sehat



Tujuan Desa Siaga
Umum: Mewujudkan masyarakat desa yang sehat, serta peduli dan tanggap terhadap permasalahan kesehatan di wilayahnya  

Khusus:
a.    Meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat desa tentang pentingnya kesehatan
b.   Meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat desa terhadap risiko dan bahaya yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan (bencana, wabah, kegawat-daruratan)
c.    Meningkatkan kel sadar gizi dan melaksanakan PHBS
d.   Meningkatkan kesehatan lingkungan di desa
e.    Meningkatkan kemampuan dan kemauan masyarakat desa untuk menolong diri sendiri di bidang kesehatan
Sasaran Pengembangan Desa Siaga
a.    Semua individu dan keluarga di desa
b.   Pihak yang mempunyai pengaruh terhadap perubahan perilaku individu dan keluarga (Toga, Toma, tokoh perempuan, kader, petugas kesehatan)
c.    Pihak yang diharapkan dapat memberi dukungan kebijakan (camat, pejabat terkait,donatur)
8)   Pengembangan desa siaga mencakup:
a. Mendekatkan pelayanan kesehatan kepada  masyarakat
b.Menyiapkan masyarakat menghadapi masalah kesehatan
c. Memandirikan masyarakat dalam mengembangkan PHBS
d.      Inti kegiatan desa siaga adalah: memberdayakan masyarakat agar sadar, mau dan mampu untuk hidup sehat
e. Pengembangan desa sehat diperlukan langkah edukatif → memfasilitasi masyarakat untuk menjalani proses pembelajaran menghadapi masalah kesehatan
f. Desa siaga dikembangkan dari UKBM (Posyandu, Pos Obat Desa, Polindes, Poskestren, Dana sehat) sebagi embrio desa siaga








BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Dari pembahasan di atas penulis dapat menyimpulkan bahwa, home care dan desa siaga merupakan  bagian integral dari pelayanan keperawatan yang dilakukan oleh perawat untuk membantu individu, keluarga dan masyarakat mencapai kemandirian dalam menyelesaikan masalah kesehatan yang mereka hadapi.
Perawatan di rumah dan didesa selain dapat mengurangi kecemasan juga dapat menghemat biaya dari beberapa segi misal biaya kamar, biaya transpor dan biaya lain-lain yang terkait dengan penjaga yang sakit.Tetapi perlu diingat bahwa pasien yang dapat layanan home care adalah pasien yang secara medis dinyatakan aman untuk dirawat di rumah dengan kondisi rumah yang memadai.
B.     Saran
Dengan terselesaikannya makalah ini mengenai konsep keperawatan aspek keterkinian dalam praktik keperawatan komunitas,  tentu banyak kesalahan dan kekuarangan dalama penulisan makalah ini, kami berharap ketersediaan semua membantu kami untuk memberikan sumbangsih berupa saran. Atas semuanya kami sampaikan terimakasih









DAFTAR PUSTAKA


Aziz Alimul Hidayat. 2004. Pengantar konsep dasar keperawatan. Jakarta : Salemba Medika.
Andreson, Elizabeth. 2007. Keperawatan Komunitas Teori dan Praktik Edisi 3. EGC
Murwani, Arita. ( 2007 ). Asuhan Keperawatan Keluarga Konsep dan Aplikasi Kasus. Penerbit Mitra Cendikia Press :Jogjakarta
Sudiharto. 2007. Asuhan keperawatan keluarga dengan pendekatan keperawatan transkultural. EGC : Jakarta
Wahyudi, Ahyar. 2010. Asuhan Keperawatan Kumunitas. http:// www.ahyarwahyudi.wordpress.com.
Andaners. 2010. Konsep Keperawatan Komonitas. http://www.andaners.wordpress.com.
suprajitno. 2004.asmkep keluarga : aplikasi dalam praktek: ed monika ester. Jakarta : EGC
Setiawati, Santun. Dkk. 2008. Penuntun Praktis Asuhan Keperawatan Keluarga. Jakarta : Trans Info Media.
Mubarak iqbal wahit. 2009. Ilmu keperawatan komunitas pengantar dan teori. Jakarta : salemba medika
Kuntoro agus . 2010. Buku ajar manajemen keperawatan. Yogyakarta : numed

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

> window.setTimeout(function() { document.body.className = document.body.className.replace('loading', ''); }, 10);