ubah bahasa sesuai keinginan anda

Kamis, 22 Maret 2012

Askep pada pasien fraktur ekstrimitas atas (Radius Ulna)


ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN GANGGUAN MUSKULUSKLETAL PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR EKSTREMITAS ATAS

Radius-Ulna
A.    Pengertian
Fraktur antebrachii adalah terputusnya kontinuitas tulang radius ulna, pada anak biasanya tampak angulasi anterior dan kedua ujung tulang yang patah masih berhubungan satu sama lain. Gambaran klinis fraktur antebrachii pada orang dewasa biasanya tampak jelas karena fraktur radius ulna sering berupa fraktur yang disertai dislokasi fragmen tulang.

B.     Jenis dan Etiologi
Menurut Mansjoer (2000), ada empat jenis fraktur antebrachii yang khas beserta penyebabnya yaitu :
1.      Fraktur Colles
Deformitas pada fraktur ini berbentuk seperti sendok makan (dinner fork deformity). Pasien terjatuh dalam keadaan tangan terbuka dan pronasi, tubuh beserta lengan berputar ke ke dalam (endorotasi). Tangan terbuka yang terfiksasi di tanah berputar keluar (eksorotasi/supinasi).
2.      Fraktur Smith
Fraktur Smith merupakan fraktur dislokasi ke arah anterior (volar), karena itu sering disebut reverse Colles fracture. Fraktur ini biasa terjadi pada orang muda. Pasien jatuh dengan tangan menahan badan sedang posisi tangan dalam keadaan volar fleksi pada pergelangan tangan dan pronasi. Garis patahan biasanya transversal, kadang-kadang intraartikular.
3.                Fraktur Galeazzi
Fraktur Galeazzi merupakan fraktur radius distal disertai dislokasi sendi radius ulna distal. Saat pasien jatuh dengan tangan terbuka yang menahan badan, terjadi pula rotasi lengan bawah dalam posisi pronasi waktu menahan berat badan yang memberi gaya supinasi.
4.                Fraktur Montegia
Fraktur Montegia merupakan fraktur sepertiga proksimal ulna disertai dislokasi sendi radius ulna proksimal. Terjadi karena trauma langsung.

C.       PATOFISIOLOGI
Apabila tulang hidup normal mendapat tekanan yang berlebihan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Kekuatan yang tiba-tiba dan berlebihan tersebut mengakibatkan jaringan tidak mampu menahan kekuatan yang mengenainya. Maka tulang menjadi patah sehingga tulang yang mengalami fraktur akan terjadi perubahan posisi tulang, kerusakan hebat pada struktur jaringan lunak dan jaringan disekitarnya yaitu ligament, otot, tendon, pembuluh darah dan persyarafan yang mengelilinginya (Long, B.C, 1996). Periosteum akan terkelupas dari tulang dan robek dari sisi yang berlawanan pada tempat terjadinya trauma. Ruptur pembuluh darah didalam fraktur, maka akan timbul nyeri. Tulang pada permukaan fraktur yang tidak mendapat persediaan darah akan mati sepanjang satu atau dua millimeter.
Setelah fraktur lengkap, fragmen-fragmen biasanya akan bergeser, sebagian oleha karena kekuatan cidera dan bias juga gaya berat dan tarikan otot yang melekat. Fraktur dapat tertarik dan terpisah atau dapat tumpang tindih akibat spasme otot, sehingga terjadi pemendekkan tulang (Apley, 1995), dan akan menimbulkan derik atau krepitasi karena adanya gesekan antara fragmen tulang yang patah (Long, B.C, 1996).

D.      MANIFESTASI KLINIK
Berikut adalah manifestasi klinik dari fraktur antebrachii menurut Mansjoer (2000) :
1.         Fraktur Colles
·         Fraktur metafisis distal radius dengan jarak _+ 2,5 cm dari permukaan sendi distal radius
·         Dislokasi fragmen distalnya ke arah posterior/dorsal
·         Subluksasi sendi radioulnar distal
·         Avulsi prosesus stiloideus ulna.
2.         Fraktur Smith
Penonjolan dorsal fragmen proksimal, fragmen distal di sisi volar pergelangan, dan deviasi ke radial (garden spade deformity).
3.         Fraktur Galeazzi
Tampak tangan bagian distal dalam posisi angulasi ke dorsal. Pada pergelangan tangan dapat diraba tonjolan ujung distal ulna.
4.         Fraktur Montegia
Terdapat 2 tipe yaitu tipe ekstensi (lebih sering) dan tipe fleksi. Pada tipe ekstensi gaya yang terjadi mendorong ulna ke arah hiperekstensi dan pronasi. Sedangkan pada tipe fleksi, gaya mendorong dari depan ke arah fleksi yang menyebabkan fragmen ulna mengadakan angulasi ke posterior.

E.       PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan radiologis dilakukan untuk menentukan ada/tidaknya dislokasi. Lihat kesegarisan antara kondilus medialis, kaput radius, dan pertengahan radius.
Pemeriksaan penunjang menurut Doenges (2000), adalah :
1.      Pemeriksaan rontgen
2.      Scan CT/MRI
3.      Kreatinin
4.      Hitung darah lengkap
5.      Arteriogram

F.        PENATALAKSANAAN
Berikut adalah penatalaksanaan fraktur antebrachii menurut Mansjoer (2000):
1.      Fraktur CollesPada fraktur Colles tanpa dislokasi hanya diperlukan imobilisasi dengan pemasangan gips sirkular di bawah siku selama 4 minggu. Bila disertai dislokasi diperlukan tindakan reposisi tertutup. Dilakukan dorsofleksi fragmen distal, traksi kemudian posisi tangan volar fleksi, deviasi ulna (untuk mengoreksi deviasi radial) dan diputar ke arah pronasio (untuk mengoreksi supinasi). Imobilisasi dilakukan selama 4 - 6 minggu.
2.      Fraktur Smith
Dilakukan reposisi dengan posisi tangan diletakkan dalam posisi dorsofleksi ringan, deviasi ulnar, dan supinasi maksimal (kebalikan posisi Colles). Lalu diimobilisasi dengan gips di atas siku selama 4 - 6 minggu.
3.      Fraktur Galeazzi
Dilakukan reposisi dan imobilisasi dengan gips di atas siku, posisi netral untuk dislokasi radius ulna distal, deviasi ulnar, dan fleksi.
4.      Fraktur Montegia
Dilakukan reposisi tertutup. Asisten memegang lengan atas, penolong melakukan tarikan lengan bawah ke distal, kemudian diputar ke arah supinasi penuh. Setelah itu, dengan jari kepala radius dicoba ditekan ke tempat semula. Imobilisasi gips sirkuler dilakukan di atas siku dengan posisi siku fleksi 90° dan posisi lengan bawah supinasi penuh. Bila gagal, dilakukan reposisi terbuka dengan pemasangan fiksasi interna (plate-screw).

G.      KOMPLIKASI
Menurut Long (2000), komplikasi fraktur dibagi menjadi :
1.    Immediate complication yaitu komplikasi awal dengan gejala
·         Syok neurogenik
·         Kerusakan organ syaraf
2.    Early complication
·         Kerusakan arteri
·         Infeksi
·         Sindrom kompartemen
·         Nekrosa vaskule
·         Syok hipovolemik
3.      Late complication
·                   Mal union
·                   Non union
·                   Delayed union
Add caption









ASUHAN KEPERAWATAN
1. PENGKAJIAN
1.      Pemeriksaan Fisik
                         i.Nyeri pada lokasi fraktur terutama pada saat digerakkan
                       ii.Pembengkakan
                     iii.Pemendekan ekstremitas yang sakit
                     iv.Paralysis
                       v.Angulasi ekstremitas yang sakit
                     vi.Krepitasi
                   vii.Spasme otot
                 viii.Parestesia
                     ix.Tidak ada denyut nadi pada bagian distal pada lokasi fraktur bila aliran darah arteri terganggu oleh fraktur
                       x.Kulit terbuka atau utuh
                     xi.Perdarahan, hematoma
2.    Pemeriksaan Diagnostik
Foto sinar X dari ekstremitas yang sakit dan lokasi fraktur
3.    Pengkajian kemampuan untuk melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari

2.        DIAGNOSA KEPERAWATAN
a.         Nyeri berhubungan dengan fraktur tulang, spasme otot, edema, kerusakan jaringan lunak
b.        Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri/ketidaknyamanan, imobilisasi
c.         Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit/jaringan berhubungan dengan imobilisasi, penurunan sirkulasi, fraktur terbuka
d.        Ansietas berhubungan dengan prosedur tindakan pembedahan dan hasil akhir pembedahan
e.         Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan primer, kerusakan kulit, trauma jaringan




INTERVENSI KEPERAWATAN

Dx
Intervensi
Rasional
1
Kaji lokasi, intensitas dan tipe nyeri

Imobilisasi bagian yang sakit

Tingikan dan dukung ekstremitas yang terkena
Dorong menggunakan teknik manajemen relaksasi
Berikan obat analgetik sesuai indikasi
Untuk menentukan tindakan keperawatan yang tepat
Untuk mempertahankan posisi fungsional tulang
Untuk memperlancar arus balik vena

Agar klien rileks

Untuk mengurangi nyeri
2
Kaji derajat imobilisasi yang dihasilkan oleh cedera
Dorong partisipasi pada aktivitas terapeutik
Bantu dalam rentang gerak pasif/aktif yang sesuai
Ubah posisi secara periodik
K
olaborasi dengan ahli terapis/okupasi dan atau rehabilitasi medic
Untuk menentukan tindakan keperawatan yang tepat
Melatih kekuatan otot klien

Melatih rentang gerak aktif/pasif klie secara bertahap
Untuk mencegah terjadinya dekubitus
Melatih rentang gerak aktif/pasif klien secara bertahap
3
Kaji kulit untuk luka terbuka terhadap benda asing, kemerahan, perdarahan, perubahan warna
Massage kulit, pertahankan tempat tidur kering dan bebas kerutan
Ubah posisi dengan sering
Bersihkan kulit dengan air hangat/NaCl

Lakukan perawatan luka secara steril

Memberikan informasi mengenai keadaan kulit klien saat ini

Menurunkan tekanan pada area yang peka dan berisiko rusak
Untuk mencegah terjadinya dekubitus
Mengurangi kontaminasi dengan agen luar
Untuk mengurangi resiko gangguan integritas kulit
4
Kaji tingkat kecemasan klien (ringan, sedang, berat, panik)
Dampingi klien
Beri support system dan motivasi klien
Beri dorongan spiritual

Jelaskan jenis prosedur dan tindakan pengobatan
Untuk mengetahui tingkat kecemasaan klien
Agar klien merasa aman dan nyaman
Meningkatkan pola koping yang efektif
Agar klien dapat menerima kondisinya saat ini
Informasi dapat menurunkan ansietas
5
Inspeksi kulit adanya iritasi atau robekan kontinuitas
Kaji kulit yang terbuka terhadap peningkatan nyeri, rasa terbakar, edema, eritema dan drainase/bau tak sedap
Berikan perawatan kulit dengan steril dan antiseptik
Tutup dan ganti balutan dengan prinsip steril setiap hari
Berikan obat antibiotic sesuai indikasi
Untuk mengkaji adanya iritasi atau robekan kontinuitas
Untuk mengetahui ada/tidaknya tanda-tanda infeksi

Untuk mengurangi resiko infeksi

Untuk mengurangi resiko penyebaran infeksi
Untuk mencegah terjadinya infeksi

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

> window.setTimeout(function() { document.body.className = document.body.className.replace('loading', ''); }, 10);